Al-‘Adzim (Yang Maha Agung)

Semua Keagungan Bersumber dari Allah

Kata Al-‘Adzim memiliki makna sesuatu yang agung dan besar. Jika yang ditunjuk itu berbentuk materi atau benda maka berarti besar atau panjang, lebar dan tinggi. Kata ini juga dapat menjadi sifat sesuatu yang imaterial (bukan bentuk menda). Ada sesuatau yang agung dalam pandangan akal, dan akal itu juga dapat`memhami hakikatnya. Ada lagi immaterial yang agung yang terjangkau oleh akal dan ada lagi yang agung bahkan yang Maha Agung namun hakikatnya sama sekali tidak terjangkau oleh akal dia adalah Allah SWT. Allah Maha Agung karena mata tidak mampu memandang-Nya dan akal tidak dapat menjangkau hakikat wujud-Nya. Allah Maha Agung karena Dia adalah yang wajib wujudnya, yang langgeng keberadaan-Nya untuk selamanya. Dia yang awwal dan yang akhir. Sedangkan wujud selain Allah hanya sebuah kemungkinan yang bisa wujud dan bisa juga tidak. Allah Maha Agung karena kagungan-Nya melebihi keagungan segala yang agung. Bahkan, keagungan segala yang agung adalah berkat anugrah-Nya. Dia Maha Agung karena keagungan-Nya tidak bertepi dan tidak pula dapat diukur. Allah Maha Agung karena akal berlutut dihadapan-Nya dan jiwa gemetar menghadapi-Nya serta larut dalam cinta-Nya. Semua makhluk menjadi kecil di hadapan hadirat-Nya. Mereka butuh pertolongan-Nya dan punah atas ketetapan-Nya.

Dialah yang paling agung baik di bumi maupun di langit. Hakikat keagungan-Nya tak dapat dijangkau oleh penglihatan kita dan tak terbayangkan dalam pikiran kita. Semua kebesaran yang kita ketahui bersifat relatif dan tak ada keagungan yang dapat menandingi keagungan-Nya. Benda yang paling besarpun masih memiliki kebutuhan kepada Allah al-Adzim. Sedangkan Allah tidak butuh kepada siapapun. Dialah yang memenuhi semua kebutuhan makhluk-Nya.

Memang kita sering menyebut besar kepada sebagian di antara kita karena karya atau jasa mereka. Tetapi karya sebesar apapun tak ada artinya jika dibandingkan dengan bermilyar-milyar karya Allah Yang Maha ‘Adzim yang jauh lebih besar. Manusia paling besarpun merupakan salah satu karya Allah.

Lebih dari seratus kali kata ‘adzim dalam al-Qur’an. Penggunaannya bermacam-macam. Ada yang mensifati al-Qur’an, ‘Arsy, singgasana ratu Bilqis, kekuasaannya, sumpah, kerajaan, ucapan, siksa, pahala, dosa, anugrah berita hari kemudian, korban kemenangan sihir Fi’aun dan tipu daya wanita, keresahan, kebohongan atau fitnah, gunung, harta kekeyanaan Qorun, penganianyaan, syirik dan lainnya. Kata ‘adzim termasuk juga digunakan untuk mensifati akhlak Rosulullah Muhammad. Kata Al-‘Adzim yang menjadi sifat Allah ada yang berdiri sendiri dan ada juga yang dirangkai dengan sifat lain, misalnya sifat Al-‘Aliyy (Maha Tinggi). Seperti pada akhir kalimat ayat Kursi (QS. al- Baqarah : 255). Perangkaian yang Maha Tinggi dengan Maha Agung (al-‘Aliyy al-‘Adzhim) untuk memberi isyarat bahwa keagungan-Nya itu adalah keagungan yang berkaitan dengan ketinggian tingkat/derajat serta kejauhannya untuk diraih oleh pemahaman akal. Di samping itu, karena ketinggian mengandung makna kejelasan, sedang keagungan sering kali diliputi oleh ketidak jelasan, akibat ketidakmampuan untuk menjangkaunya.

Rasulullah SAW menjelaskan bahwa Allah SWT berfirman dalam hadits qudsi: al-kibriyaa’u ridaa’ii wa al-‘adzhamatu izaari (Kebesaran adalah selendangKu dan keagungan adalah pakaian (kainKu). Selendang adalah sesuatu yang diletakkan di atas pakaian yang nampak jelas. Sedangkan kain adalah yang menutupi bagian dalam dan bawah. Hal ini berarti kebesaran-Nya memiiliki pengertian di bumi keagungan-Nya, di ‘arsy ketinggiannya. Dengan demikian, keagungan-Nya merupakan sesuatu yang sangat tersembunyi ditinjau dari rinciannya. Kebesaran dan ketinggiannya merupakan sesuatu yang jelas dibandingkan dengan ketidakjelasan yang lain. Terlihat dari penjelasan di atas bahwa keagungan-Nya tidak terjangkau oleh manusia, karena keagungannya tersebut berada di atas puncak dari segala puncak. Jika demikian bagaimana mungkin ia dapat diteladeni.

Imam Ghozali dalam kitab Al-Maqshod as-Sana fi Syarhil Asma’ al Husna tidak seperti kebiasaanya, beliau tidak mejelaskan apa yang dapat di raih atau diteladani manusi dari sifat Allah ini. Padahal, biasanya beliau selalu menguraikan hikmah atau teladan bagi manusia dari sifat-sifat Allah. Namun, ketika menguraikan sifat al-‘Adzim ini beliau hanya menyatakan bahwa yang agung dari manusia adalah para nabi, rasul dan para ulama. Keagungan sifat mereka kalau dipelajari dan dihayati maka dada kita akan penuh dengan rasa kagum dan haibah (hormat dengan wibawa mereka) terhadap mereka. Meskipun demikian, para ulama mengingatkan bahwa kita tetap harus mempelajari dan memahami sifat Allah Al-‘Adzim dengan tujuan untuk mengagungkan tanda-tanda kebesaran Allah. Salah satu bentuk upaya memahaminya adalah dengan jalan mengindahkan seluruh peritah-Nya dan menjauhi larangan-Nya. Demikianlah perintah Allah.

Selanjutnya, dalam meneladani sifat ini adalah kita dituntut agar mengindakan pesan- pesan tersebut sambil menyadari bahwa Allah Yang Maha Agung, yang mutlak keagungan-Nya dan tidak ada satupun keagungan yang ada di dunia ini kecuali bersumber dari Allah Yang Maha Agung. ”Ya Allah Ya Adzim, Yang Maha Agung, kami memohon dengan nama-Mu yang Maha Agung, lindungi kami dari segala persoalan yang$ agung.

Keutamaan Sya’ban

Laporan Tahunan Amal Manusia

Kita saat ini masih berada di bulan Sya’ban, bulan yang memiliki banyak keistimewaan. Hanya saja, banyak di antara kita yang kurang ngerti atau belum tahu keutamaannya. Yang kita tahun di bulan ini hanya ada Nisfu Sya’ban. Sementara keistimewaan yang tidak tahu. Terkadang kita hanya memperhatikan keagungan bulan Ramadhan saja yang memang istimewa dan menjanjikan obralan pahala. Padahal bulan Sya’ban ini juga tak kalah pentingnya dan mulyanya, tetapi terkadang, malah banyak yang meremehkannya. Berikut ini beberapa keistimewaan bulan Sya’ban:

Bulan Sya’ban adalah Bulan Kebaikan yang Bercabang

“Atadruuna lima summiya Sya’baana ? qooluu: “Allaahu warosuuluhu a’lamu. Qoolaa: “Li annahu yatasya’abu fiihi khoirun katsiirun”. ( Tahukah kalian, mengapa bulan Sya’ban dinamakan Sya’ban ? para sahabat menjawab: ” Allah dan rosul-Nya yang lebih mengetahuinya”. Beliau menjawab: “Sebab dalam bulan itu bercabang banyak kebaikan” )

Menurut dawuh kanjeng Nabi, pada bulan Sya’ban ini pahala kebaikan bercabang-cabang sehingga menjadi bertambah banyak.

Bulan Laporan Tahunan Amal

Disebutkan dalam sebuah hadits, Dzaaka Syahru yaghfalunnas ‘anhu baina Rajaba wa Romadhona wa huwa syahru turfa’u fiihil a’maal ilaa rabbil ‘alamin wa uhibbu an yurfa’a ‘amali wa ana shooimun. (Sya’ban adalah bulan yang manusia melupakannya, antara rojab dan romadhon. Itulah bulan yang di dalamnya dilaporkan semua amal manusia ke hadhirat Allah Tuhan semesta alam. Aku senang ketika amalku dihaturkan ke hadlirat Allah aku sedang dalam keadaan berpuasa)

Amal-amal manusia selama setahun dilaporkan pada bulan Sya’ban ini. Sungguh beruntung orang yang ketika amalnya dilaporkan ia sedang dalam keadaan taat, baik dengan puasa maupun amal yang lainnya.

Bulan Penentuan Umur

Ahabbus syuhuuri ilaika an tashuumahu Sya’ban?. Innallaaha yaktubu fiihi ‘alaa kulli nafsin mayyitatan tilkas sanata fa uhibbu an ya’tiyani ajali wa ana shooimun. (Apakah bulan yang paling engkau senang berpuasa adalah sya’ban? Sesungguhnya di dalam bulan sya’ban itulah Allah menentukan kematian setiap makhluk yang bernafas dalam tahun itu. Aku senang kalau penentuan ajalku datang sedang aku dalam keadaan berpuasa)

Terdapat Malam Nisfu Sya’ban

Yattholi’ullahu ila jamii’i kholqihi lailatan nisfi min sya’bana fayaghfiru lijamii’I kholqihi illa limusyrikin aw musyakhini. (Allah menggelar rahmat-Nya kepada seluruh makhluk-Nya pada malam nisfu Sya’ban. Allah mengampuni semua makhluk-Nya kecuali orang musyrik dan orang yang suka bercekcok)

Ketinggian Derajat Bulan Sya’ban

Fadhlu sya’bana ‘ala saairis syuhuuri kafadhli ‘ala saairil anbiyaai wa fadhlu romadlona ‘ala saairis syuhuuri kafadhlillahi ‘ala ‘ibaadihi. (Keutamaan bulan sya’ban atas bulan-bulan yang lain bagaikan keutamaanku atas para nabi . keutamaan bulan romadhon atas bulan-bulan yang lain bagaikan keutamaan Allah atas para hamba-Nya)

Bulan Membersihkan Jiwa

Rajaba litathiiril badani wa sya’banu litathiril qolbi wa romadlonu litathirirruukhi. (Bulan Rojab untuk membersihkan badan, bulan sya’ban untuk membersihkan jiwa, dan bulan Romadlon untuk membersihkan ruh)

Kebaikan Bagi yang Mengagungkan Bulan Sya’ban

Man ‘Addzoma Sya’bana wattaqoolloha ta’ala wa ‘amila bithoo’atihi wamsaka nafsahu ‘anil ma’shiyati ghofarollohu ta’ala dzunubahu wa aamanahu min kulli maa yakuunu fi tilkas sanati minal balaayaa wal amradhi kulliha. (Barang siapa mengagungkan bulan Sya’ban, takut kepada Allah ta’ala, melakukan amal dengan berbakti kepada-Nya, serta menjaga dirinya dari perbuatan maksiat, maka Allah ta’ala mengampuni dosa-dosanya dan memberinya keamanan dari segala penyakit dan bahaya tahun itu)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: