Kyai Badrussalam, Tongan Kota Malang

Memilih Ngajar Di Madrasah Daripada Menjadi Ketua Pengadilan Agama

Perjuangannya mensyiarkan Islam cukup besar. Meski kondisi negara belum aman, karena adanya agresi kedua Belanda yang masuk kota Malang, Kyai badrussalam tetap gigih dalam menyampaikan ilmunya

Imam Rowatib Masjid Agung Jami’ Malang

Kyai Badrussalam berasal dari kota Solo, Jawa Tengah. Dilahirkan pada tahun 1906 di desa Tempursari, Klaten Solo. Sejak kecil, beliau sudah ditempa dengan didikan agama. Ayahnya, H. Muhsin, sangat disiplin dalam mendidik beliau. Setelah mengenyam ilmu agama dari abahnya, kemudian Kyai Badrussalam mondok di pesantren Jamsaren, Solo.

Tidak diketahui secara pasti kapan beliau pertama kali datang ke Kota Malang. Yang jelas saat itu beliau datang bersama Kyai Syukri Ghozali dan Kyai Damanhuri karena diajak Kyai Nahrowi Thohir untuk membantu ngajar di Madrasah Mu’allimin, Jagalan yang dirintis Kyai Nahrowi pada tahun 1941. Selain ngajar di Mu’allimin, beliau juga mulang ngaji di beberapa masjid termasuk di masjid Agung jamik Malang. Beliau mengajar Al-Qur’an dan tafsir. Karena kealimannya dalam ilmu al-Qur’an, beliaupun didaulat untuk menjadi imam rowatib lima waktu. Selanjutnya, mulai tahun 1965 beliau ditunjuk menjadi pengurus Takmir Masjid Agung Jami Malang urusaan ibadah dan hukum, bersama Kyai Abdullah Satar. Beliaupun juga diangkat menjadi salah satu pengurus NU Cabang Malang.

Kyai Badrussalam, termasuk orang yang kenceng (lurus) dalam berdakwah dan mengembangkan pendidikan. Beliau pernah diminta untuk menjabat ketua Pengadilan Agama Malang sekitar tahun 1970, namun beliau tidak mau dan memilih mengajar di Madrasah dan berdakwah. Dari keikhlasannya mengajar, banyak santrinya yang menjadi orang-orang besar. Di antara santri beliau adalah Brigjen (Purn) Sulam Samsun, mantan pengurus PBNU, Ibu Hj. Siamah, Hj. Muthmainnah, Hj. Chusnul Khotimah pengurus Muslimat NU Kota Malang. Termasuk santrinya adalah Kyai Abdullah Iskandar, Kayutangan, pembina pengajian Aswaja saat ini.

Kyai Badrussalam dinikahkan dengan seorang wanita bernama Turtsina, adik dari H. Ahmad Dardiri, salah seorang ketua takmir Masjid Agung Jamik tahun 1950. Selanjutnya Kyai Badrussalam bersama istrinya menetap di Kampung Tongan. Dengan istikomah, Kyai yang dikarunia tujuh orang anak ini mengisi hari-harinya untuk mengajar di Madrasah Mu’allimin (madrasah Badrussalam) di Jagalan Asem.

Sosok yang Istikomah dan Sabar

Kyai Badrussalam sangat bertanggung jawab dengan tugasnya. Menurut keterangan ustdaz Kamilun Muhtadin, beliau bahkan hampir tidak pernah absen ngimami. Beliau juga sosok sederhan yang mukhlis (ikhlash), beliau berangkat ke masjid untuk mengimami sholat lima waktu dengan mengendarai sepeda ontel. Begitu istikomahnya menjalankan tugas ngimami, meskipun beliau sedang mengajar di Madrasah, kalau waktu sholat sudah tiba, beliau meminta izin kepada guru yang lain untuk ngimami sholat di Masjid Jamik.

Kyai Badussalam adalah sosok kyai yang sabar”, ungkap ibu suci, anak ke enam dari Kyai Badussalam. Pernah suatu ketika, sepeda ontel yang menjadi alat tranportasinya hilang diambil maling (pencuri) saat di parkirkan di pelataran (halaman) masjid Jamik. Namun, meskipun sepeda kesayangannya raib diambil orang, beliau hanya tersenyum dan pulang ke rumah dengan berjalan kaki.

Selain, terkenal dengan kesabarannya, Kyai Badrusalam juga dikenal sebagai sosok yang selalu nriman. Demikian ungkap H. Gatot Dardiri (salah satu takmir Masjid Agung Jami Kota malang saat ini) yang juga masih keponakannya. Pernah, suatu saat, ketika beliau pulang larut malam selesai mengajar. Sesampainya di rumah, beliau tidur di dekat istri, padahal belum makan sama sekali. Saking laparnya, perutnya berbunyi sehingga terdengar oleh sang istri. Kemudian istrinya menganjurkan agar Kyai Badrussalam makan terlebih dahulu agar tidak kelaparan dan sakit. “Abi, itu lho ada nasi, silakan makan”. Tutur istrinya. Dahulu tempat nasi itu terbuat dari wakul besek. Namun, saat beliau mengambil tempat nasi, ternyata nasinya sdah habis beliau tidak marah. Beliau malah mengambil sisi-sisa nasi yang nempel di pojok wakul. Kemudian beliau membangunkan istrinya untuk menemaninya makan. Subhanallah.

Kyai yang Wir’ai dan Bijaksana

Beliau juga merupakan ulama yang wira’i (berhati-hati dalam masalah halal dan haram. Beliau tidak mau memasukkan makanan ke dalam perutnya sebelum mengetahui dengan jelas halal dan haram makanan itu.

Suatu ketika, Kyai Badrussalam mengajar manasik haji di rumah H. Ahmad Dardiri yang masih kakak iparnya. Selesai mengajar beliau ditawari oleh istri H. Ahmad Dardiri untuk makan. “Dek-dek, monggo makan dengan cap Cay.” Tawar ibu Hj. Ahmad Dardiri. Begitu mendengar kata Cap Cay, beliau tidak berkenan memakannya. Sebab anggapan beliau Cap Cay itu adalah masakan China, dan dikahawatirkan kebersihan dan kehalalalnnya. Namun setelah dijelaskan bahwa masakannya adalah masakan ibu Hj. Ahmad Dardiri sendiri, dan namanya hanya berbau china, padahal hanya masakan sayur mayur yang diolah menjadi satu, beliau baru mau makan.

Disamping terkenal wara’, beliau juga merupakan ulama yang bijaksana dalam memberikan jawaban-jawaban hukum terhadap ummat. Pernah H. Gatot Dardiri pada saat mau menikah bertanya kepada Kyai Badrussalam.”Kyai, apakah nikah itu harus menggunakan bahasa Arab? Tanya H. Gatot. ”Oh tidak, kamu bisa menggunakan bahasa Indonesia, Jawa atau Madura. Namun lebih afdholnya memang mengunakan bahasa Arab. Mari saya tuliskan. Kemudian H. Gatot bertanya lagi; “Apakah boleh ngerpek (mencontek )? Oh bisa, akan tetapi lebih afdholnya dihafalkan. Jawab beliau dengan bijak. Jadi beliau itu tidak pernah mengecewakan orang yang bertanya kepadanya

Menghadap Ilahi

Kyai Badrussalam memang sosok yang tegar dan tabah. Meskipun dalam keadaan sakit, kyai Badrussalam tidak pernah mengeluh, akibatnya keluarga tidak mengetahui kalau Kyai Badrussalam sakit. Dalam keadaan sakit itu, Kyai Badrussalam berpamitan kepada keluarga untuk mengisi pengajian rutin di Musholla yang berada di daerah Kayutangan. Seusai mengajar di musholla, kemudian beliau diundang rapat oleh Kyai Hasyim Muzadi untuk membicarakan masalah umat. Saat itu, kediaman Kyai Hasyim Muzadi masih berada di Dinoyo. Malam itu, setiba di rumah Kyai Hasyim, Kyai Badrussalam jatuh karena tidak kuat menahan rasa sakitnya. Beliaupun dilarikan ke RSU Saiful Anwar. Saat di rumah sakit itulah Malaikat Izroil menjemput Kyai Badussalam untuk menghadap kepada Allah SWT tepat pada hari Sabtu Pahing tanggal 2 Februari tahun 1974 bertepatan dengan 9 Muharram 1394 H. Kyai Badrussalam meninggal dalam usia 68 Tahun dan dimakamkan di pemakaman Kasin

Nama : KH. Badrussalam

Istri : Hj. Turtsina

Anak : 1. Muhyil Islam,

2. Muawinatus Sariyyah,

3. Mufrihul Anam,

4. Tunik zahirotul amaliyah,

5. Bashirotus Sholihati,

6. Suciati Nadzifatul Qolbi,

7. Mudzakir

Alamat : Jl. KH. Hasyim Asy’ari Gang. 1 No. 764 Malang

Makam : Pemakaman kasin Dekat dengan area pemakaman keluarga Habib Abdul Qodir bil Faqih

1 Komentar

  1. Acex said,

    September 7, 2008 pada 5:04 am

    Kita harus meneladani seorang ulama yang wara’ bukan ulama suq.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: