Lanjutan Rukun Sholat

 I’tidal Tidak Boleh Lama-lama

Dalam edisi-edisi yang lalu baru diuraikan sebagian rukun sholat. Nah, dalam edisi ini akan kita lanjutkan beberapa rukun berikutnya.

Kelima, Ruku’

Rukun sholat berikutnya adalah ruku’. Sekurang-kurangnya, ruku’ bagi orang yang mampu adalah dengan membungkukkan badannya sehingga kedua telapak tangannya menyentuh kedua lututnya. Apabila musholli (orang yang sholat) itu tidak bisa melakukan ruku’ seperti itu kecuali dengan bantuan orang lain, maka ia wajib mencari orang untuk membantunya. Misalnya anak. Kalau sekiranya ia perlu pegangan pada sesuatu untuk menyempunakan ruku’nya maka iapun boleh berpegangan. Kalau masih belum mampu untuk ruku’ yang betul, maka ia boleh membungkuk sekedar yang dapat ia lakukan. Bahkan, kalau ia tidak mampu sama sekali untuk membungkukkan badannya ia boleh melakukan ruku itu cukup dengan isyarat matanya. Segala macam cara ini diperuntukkan bagi orang yang mampu berdiri.

Adapun orang yang melaksanakan sholatnya dengan duduk, maka sekurang-kurang ia ruku’ dengan membungkuk sekedar menundukkan wajahnya sejajar dengan ujung dua lututnya. Lebih sempurna lagi jika ia ruku dengan lebih membungkuk sehingga dahinya berhadapan dengan

. I’tidal yang wajib yaitu ia harus kembali sesudah ruku’ itu kepada keadaanya semula sebelum ruku, baik sholat yang dilakukan dalam posisi berdiri atau duduk. Kalau sebelum ruku’ berdiri tegak, ya bangun dari ruku’nya juga harus berdiri tegak dulu jangan disambung atau bablas sujud.

Beberapa hal yang perlu diperhatikan:

  • Jika Musholli mengangkat kepalanya (untuk i’tidal), lalu dia bergerak untuk sujud kemudian ia mamang apakah sudah sempurna ‘itidalnya atau belum maka ia harus kembali i‘tidal lagi.

  • Orang yang mengangkat kepala karena ada sesuatu atau spontan karena kaget maka belum dianggap ‘itidal.

  • I’tidak tidak boleh dipanjangkan kecuali di tempat-tempat yang dibenarkan oleh syariat untuk memanjangkannya seperti pada waktu qunut atau sholat tasbikh.

 

Ketujuh, Sujud

Sujud adalah bentuk penghambaan seorang hamba pada Tuhannya. Bahkan diterangkan dalam hadits bahwa posisi paling dekatnya seorang hamba pada Tuhannya adalah pada saat ia sujud. Anggota sujud ada tujuh anggota yakni kedua telapak tangan, kedua ujung kaki, kedua lutut, dan dahi. Ketika sujud paling tidak musholli harus meletakkan dahinya di atas bumi dan lebih bagus lagi dengan menekankan dahi di bumi. Kalau musholli sujud di atas rumput,tikar atau kasur, maka ia wajib menekan dahinya sehingga berbekas.

Rosulullah saw. bersabda: Idza sajadta famakkin jabhataka minal ardhi walaa tanqur naqron (Apabila kamu bersujud, hendaklah kamu menekan dahimu ke bumi dan jangan kamu menceceh-cecehkan mata!)

Tata cara sujud

Tata cara sujud yang benar adalah sebagai berikut:

  • Pertama kali meletakkan lutut ke bumi (tempat sholat/lantai) dalam keadaan renggang kira-kira seukuran sejengkal

  • Meletakkan kedua telapak tangannya ke lantai dengan posisi lurus dengan pundak. Kondisi lengan agak diangkat (tidak menempel ke tempat sholat) dan jari-jari dilepas (tidak dikepalkan), jari-jarinya dirapatkan dan menghadap kiblat.

  • Kemudian dahi dan hidung diletakkan bersama-sama.

  • Kedua telapak kaki direnggangkan kira-kira sejengkal dan ditegakkan dengan menghadapkan jari-jarinya ke arah kiblat serta telapak kakinya ditampakkan di ujung sarung (untuk laki-laki)

  • Pada waku sujud disunnahkan membuka kedua mata (tidak merem) sebagaimana pendapat yang ungkapkan oleh Imam Ibnu Abdi Salam dan di tetapkan oleh Imam Zarkasih.

  • Orang yang tidak mengikuti tata tertib secara berurutan makruh hukumnya.

Berapa permasalahan sujud yang perlu diperhatikan:

  1. Orang yang sujud di atas tangan orang lain (misalnya kondisi berdesakan) atau semacam sapu tangan yang dipegang tangannya sendiri sholatnya sah, sebab barang ini adalah bagian yang terpisah dari musholli.

  2. Kalau ketika sujud ada sesuatu yang melekat pada keningnya, misalnya pasir maka sujudnya tetap sah dan ia harus menghilangkan barang yang menempel tersebut ketika akan sujud kedua kalinya.

  3. Kalau di dahinya orang yang sholat terdapat luka dan dibalut dengan kain, kemudian ia sujud di atas balutan kain tersebut, hukumnya dianggap cukup (sah), dan dia tidak wajib mengodha sholatnya.

  4. Tidak sah sujud di atas serban yang melilit di atas bahunya, atau kain yang menutupi kedua lengannya, dikarenakan kain itu bergerak dengan gerakan tubuh badanya.

  5. Kalau tidak mampu melakukan sujud karena ada sesuatu udzur, seperti sholat dengan berbaring, maka ia bisa melakukannya dengan isyarat kepala. Dan kalau masih tidak mampu dengan kepala, ia boleh mengisyaratkan dengan matanya, dan ia tidak wajib mengqodho sholatnya.

  6. Orang yang jari kakinya telah hilang (cacat), maka boleh baginya boleh meletakkan bagian kakinya yang ada.

  7. Disunnahkan ketika sujud memperbanyak do’a. Do’anya boleh dengan bahasa Arab maupun non Arab. Kalau do’anya dalam bahasa selain Arab, maka tidak boleh diucapkan dengan lisan cukup dalam hati saja

Ketujuh, Duduk Di antara Dua sujud

Duduk di antara dua sujud adalah rukun sholat yang qoshir (pendek) sebagaimana ‘itidal jadi tidak boleh dilakukan terlalu lama. Pada waktu duduk di antara dua sujud disunnahkan duduknya iftirosy. Duduk iftirosy artinya duduk di atas mata kaki kiri, dengan telapak kaki kanan di tegakkan dan ujung jari kaki kanan di hadapkan ke kiblat, dua telapak tangan diletakkan di atas paha dan ujung jari-jarinya lurus ke depan (arah kiblat) sambil berdoa. Duduk iftirosy ini sunnah dilakukan pada empat tempat yaitu ketika duduk di antara dua sujud, duduk tasyahhud awal, duduk istirahat (setelah sujud kedua sebelum bangun untuk raka’at berikutnya) dan pada saat tasyahud akhir bagi yang akan melakukan sujud sahwi.

Kedelapan, Duduk Tasyahud Akhir.

Duduk tasyahud akhir dilakukan dengan tawaruk.

Kesembilan, Membaca Tasyahhud.

Kalimat tasyahhud bermacam-macam. Biasanya kita membaca “At-Tahiyyatul mubaarokatus sholawaatut thayyibatu lillaah…dan seterusnya.

Kesepuluh, membaca sholawat kepada Nabi Muhammad saw.

Dalam membaca sholawat, paling minim membaca Shollalahu ‘alaa Muhammad. Dan disunnahkan menambah sholawat kepada keluarga Nabi Muhammad SAW. dengan menambah kata Wa aalihi. Membaca sholawat atas keluarga nabi ini tidak disunnahkan pada tahiyyat awal.

Disunnahkan bagi Musholi membaca tahiyyat akhir secara sempurna (membaca sholawat Ibrohimiyah).

Kedua belas membaca salam.

Salam yang termasuk rukun sholat adalah salam yang pertama. Paling sedikit musholii harus dapat mengucapkan salam “Asaalamu ‘alaikaukm. Sedangkan mengucapkan salam dengan kalimat: ‘Alaikumus salam hukumnya adalah makruh. Mengucapkan salamu alaikum belum dianggap cukup begitu juga dengan salamullah atau salami alaikum. Bahkan, hal ini dapat membatalkan sholat jika disengaja dan tahu hukumnya seperti yang termaktub dalam kitab Syahrul irsyad.

Disunnahkan juga mengucapkan salam yang kedua sekalipun imam tidak membacanya. Sunnah menambahi kedua salam itu dengan ucapan warohmatullah tanpa wabarokatuh, sebagaimana hadits untuk selain sholat jenazah. Namun dalam riwayat yang lain tetap dihukumi sunnah menambah lafadz tersebut pada salam selain sholat jenazah. Ketika salam disunnahkan menoleh sampai terlihat pipi kanan ketika salam pertama, dan pipi kiri ketika salam yang kedua.

Salam yang diucapkan itu harus terdengar minimal oleh yang mengucapkannya.

Ketiga Belas, tertib. Artinya urutan-urutan mulai rukun pertama sampai terakhir.

(Hasyiyah Bajuri hal 157, I’anatut Tholibin hal 176 juz I)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: