Masjidil Aqsa

 Batu Ingin Ikut Mi’raj

Masjidil Aqsa berasal dari bahasa Arab yang artinya masjid yang jauh. Masjid ini terletak di kota Baitulmaqdis (Yerusalem) atau Baitulmuqaddas (rumah, tempat suci atau yang disucikan). Masjidil Aqsa disebut juga al-Haram al-Syarif (tanah haram yang mulia) dan al-Haram al-Quds (tanah haram yang suci). Masjidil Aqsha ada masjid tertua kedua setelah Baitullah di Mekkah dan merupakan masjid tersuci ketiga di dunia setelah Masjidil Haram dan Masjid Nabawi. Masjid ini termasuk di antara tiga masjid yang perlu dikunjungi oleh kaum muslimin sesuai dengan anjuran Nabi Muhammad SAW. Beliau dawuh: “Jangan kamu merasa berat untuk mengadakan perjalanan ketiga masjid , yaitu: Masjidil Haram, Masjidku (Masjid Nabawi) dan Masjidil Aqsa. Shalat di Masjidil Haram lebih utama dari seratus ribu kali di tempat lain, kecuali di Masjidil Aqsa”. (HR. ad-Darimi, an-Nasa-i dan Ahmad).

Masjidil Aqsa disebut dalam Al-Qur’an berkaitan dengan peristiwa Isra’ Mi’raj (QS. Al-Isra: 1).

Maha Suci Allah yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsa yang telah Kami berkahi sekelilingnya agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian dari tanda-tanda (Kebesaran) Kami..”

Kalangan ulama berbeda pendapat mengenai istilah Aqsa. Sebagian berpendapat, masjid ini disebut aqsa (jauh), karena memang jauh dari Masjidil Haram di Mekkah. Menurut pendapat lain, masjid ini disebut aqsa karena merupakan tempat yang bebas dari kotoran, tempat turunnya malaikat serta wahyu dan kiblat para nabi sebelum Nabi Muhammad SAW. Pendapat lain lagi mengatakan Masjidil Aqsa bukan di Yerussalem, tetapi di Sidratulmuntaha. Alasan ini didasarkan pada fakta Haykal Sulaiman dihancurkan pada tahun 70 M oleh Kaisar Titus dari Roma.

Masjidil Aqsa kaya dengan khazanah peradaban. Dari sinilah memancar sinar petunjuk ilahi sejak lebih dari 2500 tahun silam. Di tengah-tengah Baitulmaqdis terdapat sebuah batu besar (sakhrah) berukuran 56 kaki x 42 kaki yang seolah-olah tergantung di udara. Di bawahnya terdapat gua berbentuk kubus yang berukuran 4.5 m x 4.5 m x 1.5 m.

Di bagian atas terdapat lubang besar berdiameter 1m. Di dalam ruangan itu terdapat sebuah mimbar. Untuk dapat masuk ke dalamnya harus melalui sebuah pintu dengan menuruni sebuah tangga. Menurut sebagian ulama, nilai kesucian sarkhrah itu sama dengan Hajar Aswad (batu hitam) di Ka’bah karena kedua batu itu sama-sama berasal dari surga. Oleh karena itu, batu ini disebut sarkhrah Muqaddasah. Menurut riwayat, batu ini tempat berpijak Nabi dan hendak mengikuti Nabi Muhammad SAW sewaktu hendak Isra’ Mi’raj dari Masjidil Aqsa.

 

Masjid Dzul Qiblatain

Pindah Qiblat Ketika Masih Sholat

Masjid Dzul Qiblatain atau yang biasa disebut dengan Masjid Qiblatain berarti Masjid dengan dua qiblat. Mengapa memiliki dua qiblat. Mengapa dan bagaimana serta kapan terjadinya.Siapa yang memerintahkan perubahan? Apa akibat dari perubahan ini?
Pada awalnya qiblat (atau arah shalat) untuk semua nabi adalah Baitullah di Makkah yang dibangun pada masa Nabi Adam AS. Disebutkan dalam surat Ali Imran 96.:
“Sesungguhnya rumah yang mula-mula dibangun untuk (tempat beribadah) manusia, ialah Baitullah yang di Bakkah (Makkah) yang diberkahi dan menjadi petunjuk bagi semua manusia”.

Nabi Ibrahim a.s. dan Ismail a.s. mengikuti qiblat ini. Kemudian, Baitul Maqdis di Palestina ditetapkan sebagai qiblat untuk para nabi dari bangsa Israel. Selanjutnya, seperti disebutkan di dalam Shohih Bukhari, Nabi Muhammad SAW melakukan shalat di Madina menghadap ke arah Baitul Maqdis selama enam belas atau tujuh belas bulan. Beliau secara total patuh kepada perintah Allah SWT. Bagaimanapun beliau menginginkan Qiblat yang sama dengan Adam AS dan Ibrahim AS. Nabi Muhammad SAW sangat berharap bahwa permohonannya akan dikabulkan. Beliau sering menengadah ke langit menunggu turunnya wahyu. Dalam surat Al Baqarah ayat 144 disebutkan: “Sungguh Kami (sering) melihat mukamu menengadah ke langit, maka sungguh Kami akan memalingkan kamu ke kiblat yang kamu sukai. Palingkanlah mukamu ke arah Masjidil Haram. Dan di mana saja kamu berada, palingkanlah mukamu ke arahnya.

Kemudian turunlah perintah untuk mengalihkan arah kiblat. Akibat dari perubahan qiblat ini orang-orangYahudi memperolok kaum Muslim. Mereka berkata, “Agama seperti apa yang mengubah Qiblat?” Tapi disamping itu, mereka juga was-was dengan kekuatan ummat Islam.

Peristiwa penting perpindahan arah kiblat ini terjadi pada saat Rasulullah SAW dan para sahabat sedang melakukan shalat Dzuhur berjamaah di sebuah masjid. Ketika Rasulullah SAW sedang melakukan salat Dzuhur itu tiba-tiba turun wahyu pada surat Al-Baqarah ayat 144 yang memerintahkan mengubah arah kiblat dari Masjidil Aqsa di Palestina ke Ka’bah di Masjidil Haram di Mekkah.

Padahal, ketika turun wahyu tersebut shalat telah berlangsung dua rakaat. Maka begitu mendengar wahyu tersebut, serta merta Rasulullah SAW dan para shahabat langsung memindahkan arah kiblatnya atau memutar arah 180 derajat. Dan peristiwa perpindahan kiblat itu dilakukan sama sekali tanpa membatalkan shalat. Juga tidak dengan mengulangi shalat dua rakaat sebelumnya. Ayat itu sendiri adalah ayat yang diturunkan kepada Rasulullah SAW yang telah lama mengharapkan dipindahkannya kiblat dari Masjidil Aqsa ke Masjidil Haram.

Peristiwa yang terjadi pada bulan Rajab 12 H (ada yang berpendapat bulan Sya’ban) itulah yang menjadi cikal bakal masjid tempat Nabi dan para sahabat shalat itu dengan nama Masjid Qiblatain yang berarti dua kiblat. Sebelum dinamai Qiblatain karena perubahan arah kiblat itu, masjid yang terletak di atas bukit kecil di utara Harrah Wabrah, Madinah, itu bernama Masjid Bani Salamah.

Di dekat Masjid Qiblatain ada telaga yang diberi nama Sumur Raumah, sebuah sumber air milik orang Yahudi. Mengingat pentingnya air untuk masjid, maka atas anjuran Rasulullah SAW, Usman bin Affan kemudian menebus telaga tersebut seharga 20 ribu dirham dan menjadikannya sebagai wakaf. Air telaga tersebut hingga sekarang masih berfungsi untuk bersuci dan mengairi taman di sekeliling masjid, serta kebutuhan minum penduduk sekitar. Hanya bentuk fisiknya sudah tidak kelihatan, karena ditutup dengan tembok.

Dalam perkembangannya, pemugaran Masjid Qiblatain terus-menerus dilakukan, sejak zaman Umayyah, Abbasiyah, Utsmani, hingga zaman pemerintahan Arab Saudi sekarang ini. Pada pemugaran-pemugaran terdahulu, tanda qiblat pertama masih jelas kelihatan. Di situ diterakan bunyi QS. AlBaqarah: 144, ditambah larangan bagi siapa saja yang shalat agar tidak menggunakan kiblat lama itu.

Berziarah ke Masjid Qiblatain mengandung banyak hikmah. Selain ibadah shalat wajib dan sunat, di sana, jamaah dapat juga memetik ibrah (suri teladan) dari para pejuang Islam periode awal (as-sabiqunal awwalun) yang begitu gigih menyebarkan risalah Islamiyah, melaksanakan perintah Allah SWT baik dalam segi ibadah mahdlah (ritual), seperti berjamaah, mengganti kiblat, dan menyucikan diri, maupun dalam segi ibadah ghair mahdlah (sosial) seperti menyisihkan harta untuk kepentingan umat, untuk memugar masjid dan lain sebagainya.

Bila mengacu pada peristiwa di atas, maka kita perlu memberitahukan arah qiblat yang sebenarnya meski kepada orang yang sedang shalat. Dan baginya boleh merubah atau membetulkan arah posisi qiblat meski dalam shalat, tanpa perlu mengulangi rakaat yang salah arahnya

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: