Membebaskan Diri dari Bujukan Dunia

 Jangan Jadikan Dunia Seperti Tuhan

Mau makan teringat padamu… mau tidur teringat padamu…kekasihku

Masih ingatkan bait lagu ini. Lagu yang dinyayikan Evi Tamala ini menggambarkan seseorang yang sedang jauh cinta. Ia selalu ingat orang yang dicintainya kapan dan di manapun. Mau tidur ingat kekasihnya, mau makan ingat kekasihnya, mau ngapain saja selalu ingat sang kekasih. Pikiran dan hatinya begitu terikat dengan sang kekasih.

Yang namanya sudah kadung jatuh cintrong, biasanya perhatiannya selalu tertuju pada apa yang dicintainya. Bahkan rela akan melakukan apa saja demi mendapatkan sekaligus memiliki apa yang dicintainya. Nah, kecintaan seseorang itu tidak mesti hanya cinta pada lawan jenisnya. Yang laki-laki senang wanita, sebaliknya si wanita suka pada laki-laki. Namun, kecintaan seseorang bukan sekedar cinta pada lawan jenisnya, namun bisa lebih luas dari pada itu. Ada yang jatuh hati pada seorang gadis, saking cintanya dia tak peduli walaupun beda agama, tak peduli walaupun tak direstui orang tua. Ada yang cinta setengah mati dengan yang namanya fulus (uang), sehingga seluruh hidupnya hanya untuk mencari dan menumpuk duit. Dalam otaknya hanya ada fulus dan fulus. Ada yang cinta mati-matian pada jabatan. Dia pun berani mengeluarkan biaya miliyaran asalkan bisa duduk di kursi empuk, apakah itu bupati/wali kota, apakah itu gubernur.

Memang, yang disenengi manusia itu macam-macam. Dalam al-Qur’an disebutkan: “Dijadikan indah dalam pandangan manusia kecintaan kepada apa-apa yang diingini, yaitu: wanita-wanita, anak-anak, harta benda yang banyak dari jenis emas dan perak, kuda pilihan, binatang ternak dan pertanian (QS. Ali Imran:14 )

Masalahnya, kalau kecintaannya itu sudah berlebihan dia akan terjebak pada hubbud dunya, cinta dunia alias kedunyan. Kalau orang sudah kena penyakit kedunyan, bisa jadi dia akan diperbudak dunia.

Namun, anehnya, banyak orang yang tak sadar kalau dirinya telah “diperbudak” oleh. Bagaimana tidak diperbudak, wong bekerja siang malam tak kenal waktu, tidak peduli sholat, tak sempat ngaji demi untuk mendapatkan uang sebanyak-banyaknya. Karena diperbudak dunia, sudah mendapat gaji Rp 5 juta setiap bulan masih saja merasa kurang. Mereka yang telah diperbudak dunia adalah orang yang selalu merasa kurang dan kurang, padahal uangnya segudang. Benarkah kita sudah diperbudak dunia?

Orang yang diperbudak dunia sebagian besar karena serakah bin tamak. Dia menganggap kalau dunia ini adalah surga sehingga harus dinikmati sepuasnya. Orang yang diperbudak dunia hidupnya ya untuk dunia. Bukan dunia untuk hidup. Karena itu yang mereka kejar adalah kesenangan duniawi. Mereka ingin menghabiskan masa mudanya dengan senang-senang. Mereka setelah tua hidup foya-foya dan kalau mati masuk surga. Ya mana bisa mas. Untuk itu, mumpung sekarang kita sedang memperingatan hari kemerdekaan, sekalian kita renungkan, sudahkah kita bebas atau merdeka dari perbudakan?

Yang namanya kemerdekaan itu, hakikatnya tidak sekedar merdeka dalam bentuk fisik. Yang tidak kalah penting adalah kemerdekaan ruhani. Hatinya bersih, pikirannya jernih. Jauh dari keinginan akan kenikmatan dan kemewahan dunia yang berlebihan.

 

Jangan Mempertuhankan Dunia

Orang yang kadung kedunyan, pikiran dan hatinya dipenuhi oleh masalah dunia. Bahkan, bisa-bisa mereka menjadikan dunia seperti tuhan mereka. Semuanya untuk dunia. Semuanya demi dunia. Bahkan amal ibadahnyapun yang mestinya bermutu karena mengharap ridho Allah SWT, tetapi karena kena menyakit hubbud dunya maka ibadahnya jadi sia-sia.

Orang yang mempertuhankan dunia akan lebih cinta dunianya daripada Allah dan rasul-Nya. Disebutkan dalam al-Qur’an: Dan dari manusia itu ada orang yang menyembah tandingan-tandingan selain Allah; mereka mencintainya seperti mereka mencintai Allah. Dan orang-orang yang beriman sangat cinta kepada Allah. (QS. Al-Baqoroh: 165)

Saking cintanya pada dunia, dia sampai lupa kepada tuhannya. Kalau urusan fulus semangatnya luar biasa, tapi kalau urusan masjid, urusan ibadah malasnya minta ampun. Diajak ke masjid, jawabnya nanti aja kalau sudah longgar. Diajak ngaji, alasannya ada saja. Diminta zakat, infak dan sedekah, pelitnya tidak ukuran.

Padahal Allah SWT telah mewanti-wanti, barang siapa yang jauh lebih cinta pada dunia daripada cinta kepada Allah dan Rasul-Nya tunggu saja balasan dari Allah. Disebutkan dalam firman-Nya: “Katakanlah: “Jika bapak-bapak, anak-anak, saudara-saudara, istri-istri, keluarga, harta kekayaan yang kamu usahakan, perniagaan yang kamu khawatirkan kerugiannya, dan rumah-rumah tempat tinggalmu yang kamu sukai lebih kamu cintai daripada Allah dan Rasul-Nya serta jihad dijalan-Nya, maka tungulah sampai Allah mendatangkan keputusannya… (QS. At-Taubah:24).

 

Bahaya Diperbudak Dunia

Orang yang diperbudak dunia akan hidup penuh masalah. Banyak akibat buruk yang akan muncul. Diantaranya adalah mengganggu kekhuyu’an sholatnya. Orang yang sedang pusing mikirkan proyek atau bisnisnya pikirannya tentu akan ingat proyeknya terus. Makan, ingat proyek, tidur gelisah karena ingat proyek. Nah, pada saat sholatpun proyeknya menari-nari dalam pikiran dan hatinya, akibatnya sholatnya ngelantur. Wong Tahiyyat lha kok baca fatihah. Sholat sampai lupa ini roka’at ke berapa. Demikian juga, orang yang sedang kasmaran alias jatuh cinta, di hati dan pikirannya hanya ada sidoi. Akibatnya, pada saat shoaltpun yang muncul hanya wajah dan senyum manisnya. Orang yang sedang menggebu-gebu mengejar jabatan juga tidak kalah repotnya. Mulai ushalli sampai salam yang dipikirkan bagaimana agar bisa menang. Ya bagimana mau khusyu’ wong pikirannya terus memikirkan hartanya, kenaikan pangkatnya, masalah usahanya, dan hal-hal duniawi lainnya. Tidak hanya dalam hal sholat, dalam dzikir pun orang yang hubbud dunya akan memikirkan dunianya meski mulutnyu komat kamit berdzikir.

Diperbudak dunia tidak hanya mengganggu kekhusyu’an, bahkan bisa mengakibatkan seseorang malas beribadah. Kalau toh dia beribadah, ibadahnya sulit untuk sempurna. Sholat yang penting gugur kewajiban. Sholatnya sih sholat cuma sayangnya sekedarnya saja. Bahkan tak jarang, saking sibuknya ngurusi dunia, orang tak sempat sholat. Sholatnya diringkas jadi seminggu sekali saja, yaitu sholat Jum’at. Bahkan, ada juga yang lebih parah lagi, sholatnya lebih diringkas lagi yaitu cukup Idul Fitri dan Idul Adha saja. Lha, begini kok ya ngaku orang muslim.

 

Kesenganan Dunia Akan Ditinggalkan.

Karena nafsu, manusia bisa cinta dunia, cinta harta, cinta pangkat dan cinta apa saja secara berlebihan. Padahal semua yang dicintainya itu akan dia tinggalkan ketika nyawa sudah dicabut. Harta benda yang dikumpulkan siang malam, kerja keras banting tulang tidak akan dibawa kekuburan. Pangkat jabatan yang dikejar mati-matian sampai sikut sana sikut sini bahkan rela merogoh kocek yang tidak sedikit juga tidak akan dibawa mati. Istri, suami, anak-anak atau kekasih yang sangat dicintai, yang katanya belahan jiwanya, juga tidak akan ikut-ikutan masuk kuburan. Alhasil, semua kesenangan yang kita cintai dan teerkadang berlebihan itu akan kita tinggalkan semua.

Dalam sebuah hadits Rasulullah diberi peringatan oleh malaikat Jibril; ‘Isy maa syi’taa fainnaka mayyitun, wa’mal maa syi’ta fainnaka majziyyun bihi, wahbub maa syi’ta fainnaka mufaariquhu. Artinya: “Hiduplah sesukamu, tapi ingat kamu akan mati. Lakukan apa yang kamu sukai, tapi ingta kamu akan dibalas dengan amalmu. Dan cintailah apa yang kamu cintai sesukamu, tapi ningat kamu akan meninggalkannya”. W.

Oleh karena itu kita tidak boleh jatuh sampai diperbudak dunia. Diperbudak harta benda, diperbudak pangkat dan jabatan, diperbudak popularitas alias ketenaran, diperbudak keinginan-keinginan yang berlebihan. Dunia cukup kita pegangi, tapi tidak sampai merasuk dalam hati. Rasulullah SAW berdo’a: Allahummaj’alid dunyaa fii yadii walaa taj’lhaa fii qolbyy (Ya Allah, Jadikanlah dunia di tanganku dan jangan Engkau jadikan dunia di dalam hatiku). (*)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: