Memelihara Taubat dengan Muhasabah

 Ingatlah Dosa,

Jangan Ingat Jasa

Banyak orang yang sudah berusaha taubat tapi masih sering kumat-kumatan. Berbuat dosa lalu taubat, lalu berbuat dosa lagi. Ada orang yang suka minum-minuman keras, katanya mau taubat. Keluarga dan tetangganya sudah seneng melihat anak yang tadinya bengal itu sudah mau berubah. Biasanya tidur diemperan karena over dosis, kini sudah anteng di rumah. Biasanya waktu Maghrib keluyuran di jalan, kini sudah duduk sila di masjid.

Tapi, rupanya, dia masih kurang mantep. Baru beberapa minggu saja hidupnya berubah, lha kok sudah kena pengaruh teman-temannya lagi. Rupanya, banyak temannya yang ngompori supaya tidak usah taubat dulu. “Ngapain repot-repot tobat segala, kitakan masih muda. Mumpung masih muda kita seneng-seneng dulu tobatnya nanti kalau sudah tua saja”. Mendapat “bisikan” setan-setan manusia seperti itu, hatinya jadi goyah lagi. Akhirnya, diapun kembali menekuni kehidupan bebasnya”.

Lha, kan eman pak. Sudah diberi pintu taubat kok disia-siakan. Kita harus hati-hati, jangan sampai nuruti bisikan yang menyesatkan. Jangan punya anggapan, kita masih bisa taubat kalau sudah tua. Sebab, sudah terlalu banyak kemaksiatan dan dosa yang mungkin kita lakukan, sedangkan amal baik kita hanya secuil saja. Nanti, kalau ditimbang di akhirat gimana, kalau keburukan kita lebih berat, lebih banyak daripada kebaikan kita. Kan kita akan merugi. Allah SWT sudah mewanti-wanti kita dalam kitab suci-Nya: Barang siapa yang siapa yang berat timbangan (amalbaiknya), maka merekalah orang-orang yang beruntung. Dan barang siapa yang ringan (amal baiknya), maka merekalah orang-orang yang merugikan diri mereka sendiri…” (QS. Al-A’rof: 8-9)

Nah, supaya taubat dan jalan hidup kita bisa terjaga, kita harus berusaha untuk terus menerus memperbaiki diri, menyadari kekurangan dan kekhilafan kita untuk diperbaiki. Memang, salah satu cara yang cukup efektif untuk memelihara taubat kita adalah dengan cara melakukan muhasabah, yaitu upaya melakukan introspeksi terhadap diri sendiri, melihat kekurangan dan kelemahannya. Manakala kita menemukan banyak kekurangan atau kesalahan yang telah kita lakukan, maka kita bisa menindak lanjutinya dengan bertaubat dan beristigfar. Demikian seterusnya. Jadi, setiap saat kita terdorong untuk memperbanyak istighfar. Memohon ampun atas segala dosa dan kekhilafan plus minta bimbingan agar bisa menjalankan perintah Allah dan tuntunan Rasulullah SAW.

Walhasil yang harus kita lihat atau intospeksi adalah sisi kekurangan kita. Oh, ternyata sholat kita masih belum sempurna. Kita masih belum banyak bersedekah. Kita masih belum gemar membaca al-Qur’an. Kita masih suka mendzholimi orang. Kita belum menyantuni anak-anak yatim. Kita belum berbakti pada orang tua. Yang begini ini mestinya kita ingat-ingat dan renungkan. Lha, kalau yang kita lihat malah amal-amal kebaikan kita terus, dikhawatirkan kita akan merasa bangga dan puas dengan amal sendiri. Ini tentu tidak baik. Pertama, akan mendorong kita untuk tidak mau menambah kebaikan terus menerus, karena merasa sudah banyak amalnya. Kedua, menjauhkan kita dari keinginan untuk beristighfar dan bertaubat. Sebab, yang dilihat amal baiknya, sementara dosa dan kemaksiatannya tidak sempat direnungi. Saya kan sudah banyak beramal. Saya sudah nyumbang lima panti asuhan. Saya selalu sholat berjama’ah. Saya selalu ikut majelis taklim. Buat apa saya takut dengan dosa-dosa. Kan masih banyak amal saya dari pada dosa saya. Nah, ini prinsip yang keliru. Jangan merasa bangga dengan amal atau jasa. Sebab, siapa yang menjamin amal kita diterima Allah. Sebaliknya, jangan entengkan dosa, sekecil apapun. Sebab, siapa tahu dosa yang kita anggap remeh itu akan jadi keriokil tajam di akhirat nanti. Na’udzubillah.

Oleh karena itu, kita diperintahkan untuk terus muhasabah. Sayyidina Umar bin Khottob mengatakan: “Perhitungkanlah dirimu sendiri sebelum diperhitungkan, dan siap-siaplah menghadapi hisab agung di hadapan Allah, pada hari itu anda ditampilkan di hadapan-Nya, maka tidak ada lagi rahasia yang tersembunyi pada anda”

Kita semua tentu akan menghadapi perhitungan amal di hadapan Allah. Nah, sungguh beruntung orang yang menyadari kekurangan dan kekhilafannya sehingga terus bertaubat dan beristighfar. Dengan taubat yang ajeg (istiqomah) insya Allah dosa-dosa kita akan diampuni, sehingga pada saat dihisab nanti kita termasuk orang yang berat timbangan amal baiknya. Dan mudah-mudahan dosa dan kesalahan kita sudah terampuni sehingga tidak menjadi beban di akhirat nanti.

Di dalam kitab Ihya’ ‘Ulumuddin disebutkan :

“Barang siapa introspeksi dirinya, sebelum dihisab, maka menjadi ringanlah hisabnya pada hari kiamat, mudah ia menjawab pertanyaan, dan bagus tempat kembalinya (Surga). Dan barang siapa yang tidak mengoreksi dirinya, maka akan terus menyesal lama berdiri di halaman hari kiamat, dan dosa-dosanya akan menyertainya ke dalam kemarahan Tuhan”

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: