Menjaga Kekurangan Pasangan

 Orang Lain Jangan Sampai Tahu

Agama memerintahkan agar masing-masing suami istri mampu menjaga rahasia apalagi aib pasangannya. Suami harus menjaga rahasia, kekurangan maupun aib istrinya, begitu pula sebaliknya.

Kita patut acungi jempol pada Mbak Reno. Walaupun suaminya pas-pasan dan punya banyak kelemahan serta sering melakukan kekhilafan, namun Mbak Reno ini mampu menyimpan dalam-dalam perasaan mangkelnya pada sang suami. Ia tidaki pernah sambat apalagi adu-adu pada orang tuanya. Ia punya prinsip, biarlah hanya saya yang tahu kekurangan dan kelakuan buruk suami saya. Meskipun ia sering kecewa dengan sikap suaminya yang kadang marah-marah, pelit ngasih uang belanja dan sering membuatnya kecewa ia tetap sabar dang primpen menyimpan perasaannya. Dia hanya menangis pada saat menyendiri sambil mengadu kepada Allah dan memohon do’a agar suaminya diberi bimbingan.

Rupanya prinsip Mbak Reno ini jauh beda dengan yang dilakukan Mas Randu. Ia justru seneng ngumbar cerita tentang kekurangan dan keburukan istrinya. Akibatnya, bukan hanya keluarganya yang tahu kelemahan sang istri, tonggo kiri kanan bahkan rekan-rekannya dikantorpun sudah mafhum dengan keruwetan rumah tangganya. Coba saja, kalau Mas Randu lagi makan siang dengan temannya, waduh kekurangan istrinya mulai A sampai Z dibuka tanpa tedeng aling-aling. “Saya kesel mas dengan istri saya, masak setiap pagi saya tidak pernah dibuatkan kopi, kalau diminta tolong ini itu jawabannya membuat kuping saya panas”, keluh Mas Randu. “Belum lagi mas, rewelnya minta ampun”, kalaupun sudah saya turuti kemauannnya, tapi masih ngomel terus, katanya kurang inilah, kurang itulah”.

Karena keluarga Mas Randu sering diwaduli (dicurhati) kekhilafan dan ibnya sang istri, merekapun jadi tidak simpati pada istri Mas Randu. Akhirnya, kelurangan dan aibnya ini jadi menu rasan-rasan keluarga. “Ya op sih, Randu ini, masak cari istri model begitu, apoa ga makan ati,” komentar keluarganya. Yang lainpun tidak kalah garang, “Iya tuh, istri seperti buat apa dirumat, ceraikan saja, wong masih banyak cewek lain”.

Sungguh kasihan nasib istrinya Mas Randu, dia sudah kadung dicap buruk oleh keluarga suaminya. Padahal, dia tidak punya niat buruk sama sekali. Kesalahan yang dia lakukan pada Mas Randupun sebenarnya masalah ringan. Tapi, suaminya tidak mau sabar dan malah ngobral kekurangan dan aibnya pada orang lain terutama keluarga Mas Randu. Sang istripun merasa tertekan, apalagi tatapan mata dan pandangan keluarga Mas Randu hampir semuanya sinis.

 

Menutupi Kekurangan Pasangan

Masing-masing suami istri harus pandai-pandai menutupi aib dan kekurangan pasangannya. Biarlah mereka sendiri yang tahu sambil terus berupaya diperbaiki. Orang yang suka menutupi aib orang lain, termasuk aib suami atau istrinya akan dimuliakan oleh Allah SWT. Yang jelas disebutkan dalam sebuah hadits bahwa nantiu diakhirat Allah SWT akan menutupi aibnya. Kanjeng Nabi bersabda: ….Wa man satara musliman satarahulloohu fid dunyaa wa aakhirati. (Barang siapa yang menutupi (aib) seorang muslim, maka Allah akan menutupi (aibnya) di dunia dan akhirat). (HR. Bukhari Muslim)

Semampu mungkin kekurangan dan aib pasangan kita simpan serapat mungkin. Tentu saja pada batas-batas tertentu kita dibolehkan melaporkan aib atau keburukan pasangan itu kalau kondisinya darurat atau terpaksa, misalkan suami teru-terusan menganiaya atau mendzholimi istrinya, maka sang istri boleh wadul (melaporkan), bisa ke orang tua atau bahkan ke pengadilan asalkan tujuannya baik yaitu mencari jalan keluar bukan sekedar obral masalah.

Orang yang mau menutupi keburukan saudaranya termasuk pasanganya maka Allah akan menutpi keburukannya, tidak saja di dunia bahkan nati di akhirat. Selama di dunia, bisa jadi dia banyk berbuat buruk atau memiliki aib, tapi karena dia juga mau menutupi aib saudaranya, maka diapun dilindungi oleh Allah serta diberi kesempatan untuk bertobat dan memperbaiki diri.

 

Menyebut-nyebut Kebaikannya

Kalau menyebut-nyebut aib orang dilarang, maka sebaliknya menyebut-nyebut kebaikannya, memuji kelebihanya justru diperintahkan. Sayyidah ‘Aisyah ketika ditanya bagaimana akhlak kanjeng Nabi, ia menjawab dengan pujian, bahwa akhlaknya kanjeng Nabi adalah Al-Qur’an. Dalam kesempatan yang lain beliau juga pernah mengatakan bahwa selama hidup bersama kanjeng nabi dia tidak pernah dimarahi apalagi disakiti atau dipukul beliau. Nah, yang begini ini harus kita tiru. Bagaimana seorang suami harus pandai menyebut kebaikan istrinya dan bagaimana pula seorang istri membanggaka suaminya kepada orang lain. Bukan malah mengeluhkan.

Agar kita bisa terdoromng untuk menyebutka kebaikan-kebaikan pasangan kita, ya caranya harus diawali dengan sikap tidak melihat kekurangan yang ada pada pasangan kita, tapi sebaliknya lihat dan ingat-ingat jasa dan kebaikannya. Baginda Rasulullah SAW mengingatkan kita dalam sabdanya: Seorang mukmin janganlah membenci seorang mukminah (yang menjadi istrinya) jika ia tidak suka dengan salah satu perangainya. Sebab boleh jadi ia suka dengan perangainya yang lain (HR. Imam Muslim dan Imam Ahmad)

Kita diperintahkan sabar menghadapi sifat istri yang tidak kita sukai. Bisa jadi masih banyak sifat-sifatnya yang lain yang kita suka. Misalnya saja seorang suami punya istri yang hobinya belanja dan suka menghabiskan uang belanjaan buat keperluan yang tidak perlu. Sikap kita menghadapi istri yang demikian itu adalah tidak langsung menvonisnya. Ya harus kita lihat sisi kebaikan yang dipunyai istri kita. Oh, ya, istriku itu meskipun boros, tapi sangat sayang kepada keluarga. Oh, ya, istriku meski begitu, pandai memasak. Oh, ya, istriku meski begitu tapi orangnya rajin dan bersihan. Jika kita berpandangan seperti ini, niscaya kita tidak sampai memarahi istri kita yang punya kekurangan dalam satu hal. Sebab istri kita punya kelebihan 10 hal.

Begitupula seorang istri, jika dia tidak suka dengan salah satu sifat suaminya yang kurang bersihan dan cuek dalam penampilan tetapi kan masih banyak sisi kelebihannya. Misalnya saja suami kita sangat loman, apapun kebutuhan istrinya selalu dipenuhi dan orangnya penyabar kepada anak istri. Kelebihan-kelebihan inilah yang harus kita lihat. Sehingga tidak sampai terjadi konflik antara suami istri. Ingatlah, sejelek apapun sifat suami kita, dia tentu punya sisi baiknya. Di samping tips-tips seperti itu, kita juga harus mengoreksi diri kita terlebih dulu. Jangan-jangan kitalah yang justru paling banyak kekurangannya. Sebab masalahnya, kita ini senang menilai kekurangan pasangan kita sementara kita lupa dengan kekurangan kita sendiri. Kalau kita ingin rumah tangga kita harmonis, awet, langgeng, ya harus selalu memandang kelebihan pasangan kita dan mengoreksi kekurangan kita sendiri.

Namun, orang kalau kadung marah atau benci biasanya tidak hanya mengungkit-ungkit kekurangannya, tapi juga mencari kesalahannya. Selain dilarang mencari kesalahan pasangan kita, kita juga dilarang membesar-besarkan kesalahan pasangan kita. Masak gara-gara suaminya ngasih uang belanja sedikit langsung mencak-mencak seperti orang yang kebakaran jenggot. Masak gara-gara suaminya telat pulang karena ada urusan penting di kantor lalu diceramahi sama istrinya sampai satu jam. Apalagi kalau sampai marahnya melebar ke masalah lain. Maka kesalahan sekecil apapun akan menjadi besar. Yang tadinya tidak salah akhirnya dicari-cari kesalahannya. Yang begini ini tidak baik untuk membangun keluarga yang damai dan bahagia

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: