Multi Fungsi Al-Qur’an Dalam Kehidupan

Mengobati Jasmani dan Ruhani

Oleh : Prof. Dr. Kasuwi Saiban, M. Ag

(Guru Besar Fakultas Hukum Universitas Merdeka Malang)

Al Quran turun sekaligus pada tanggal 17 Ramadhon ke baitul izzah, kemudian berangsur-angsur turun ke dunia secara bertahap selama kurang lebih 23 tahun. Allah menurunkan al-Qur’an melalui malaikat Jibril untuk disampaikan kepada Nabi Muhammad SAW dan diteruskan kepada seluruh umat manusia. Sebagai kitab suci yang dijadikan pedoman hidup umat Islam, Al Qur’an mempunyai fungsi yang multi dimensional sehingga tak satu pun aktivitas muslim yang berada di luar cover Al Qur’an.

Adapun fungsi Al Qur’an dalam kehidupan manusia antara lain:

Sebagai Media Pengingat.

Ketika manusia masih di alam ruh, mereka telah berikrar untuk tidak menyembah kepada selain Allah, sehingga mereka berkewajiban untuk menyembah hanya kepada Allah. Allah SWT menegaskan dalam surat al-A’raf ayat 172 sebagai berikut :

Artinya : “Dan (ingatlah), ketika Tuhanmu mengeluarkan keturunan anak-anak Adam dari sulbi mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap jiwa mereka (seraya berfirman): “Bukankah Aku ini Tuhanmu?” Mereka menjawab: “Betul (Engkau Tuhan kami), kami menjadi saksi”. (Kami lakukan yang demikian itu) agar di hari kiamat kamu tidak mengatakan: “Sesungguhnya kami (bani Adam) adalah orang-orang yang lengah/lalai terhadap ini (keesaan Tuhan)”,

Dalam ayat tersebut, Allah mengingatkan manusia agar tidak lalai terhadap ikrar mereka ketika di alam ruh. Namun demikian, dalam perjalanan hidupnya, manusia banyak yang lupa terhadap ikrar tersebut. Bahkan sebaliknya, kini mereka menyembah kepada harta, pangkat, dan jabatan, serta segala fasilitas hidup yang mereka peroleh di dunia ini. Oleh karena itu, Al Qur’an diturunkan untuk mengingatkan manusia agar penyembahan dan pengabdian itu hanya kepada Allah. Dengan demikian, jelaslah bahwa salah satu fungsi Al Qur’an adalah untuk media pengingat bagi manusia. Allah SWT berfirman pada surat Thaha ayat 2-3: Artinya : Kami tidak menurunkan Al Qur’an ini kepadamu agar kamu menjadi susah, akan tetapi (Al Qur’an diturunkan) sebagai peringatan bagi orang yang takut (kepada Allah).

Sebagai Obat.

Dewasa ini, banyak orang sakit yang tidak bisa dirujuk secara medis melalui kedokteran, baik penyakit jasmani maupun penyakit rohani. Oleh karena itu, obat penawar melalui Al Qur’an merupakan solusi yang sangat tepat. Sebagaimana Abu Sa’id al-Hudhri meriwayatkan sebuah hadits yang intinya: “Pada suatu hari, sebagian sahabat Nabi datang ke suatu kampung (untuk berdakwah). Penduduk kampung tersebut menolak kehadiran mereka, kecuali jika mereka bisa mengobati kepala kampung tersebut yang sedang sakit. Kemudian para sahabat tersebut mencoba untuk mengobatinya dengan membacakan surat Al Fatihah dan meludahkan kepada kepala kampung yang sedang sakit itu ternyata bisa sembuh. Atas peristiwa ini para sahabat tadi di samping diizinkan memasuki kampung mereka juga diberi hadiah kambing (HR Bukhori).

Atas dasar riwayat hadis inilah, saat ini banyak praktek ruqiyah (pengobatan) alternatif dengan bacaan ayat-ayat al-Qur’an. Allah SWT secara tegas mengisyaratkan fungsi al-Qur’an sebagai obat ini pada surat al-Isra’ ayat 82: Artinya : “Dan Kami turunkan dari Al Qur’an suatu yang menjadi obat dan rahmat bagi orang-orang yang beriman dan Al Qur’an itu tidaklah menambah kepada orang-orang yang lalim selain kerugian”.

Fungsi Al-Qur’an sebagai obat tentunya bisa digunakan untuk menyembuhkan berbagai macam penyakit. Kalau untuk penyembuhan penyakit jasmani saja bisa, lebih-lebih untuk penyembuhan penyakit rohani tentu a-Qur’an lebih mujarab lagi. Allah SWT dalam surat Yunus ayat 57 berfirman: Artinya : “Hai manusia, sesungguhnya telah datang kepadamu pelajaran dari Tuhanmu dan penyembuh bagi penyakit-penyakit (yang berada) dalam dada dan petunjuk serta rahmat bagi orang-orang yang beriman”.

Jelaslah menurut ayat di atas bahwa al-Qur’an merupakan obat penyakit hati/rohani yang lebih sulit diatasi secara medis dari pada penyakit jasmani. Penyakit hati ini antara lain berupa tama’ (rakus), hasud (dengki), riya’ (suka pamer), dan takabur (sombong). Empat hal tersebut jika menempel pada diri seseorang maka secara tidak sadar dia telah terjangkit penyakit hati yang penawarnya harus dikembalikan kepada Al Qur’an. Penyakit hati tersebut jika tidak segera diobati bisa mendorong timbulnya penyakit jasmani yang semakin sulit diobati.

Pengobatan melalui konsep Al Qur’an, baik yang terkait penyakit jasmani maupun rohani ini telah dikembangkan oleh para ilmuan muslim pada abad kejayaan Islam. Misalnya (1) Ar-Rozi yang dikenal di Eropa dengan sebutan Rhazes, dia mengarang buku dengan judul Al-Hawi, yang terdiri atas 20 jilid. Buku ini membahas berbagai cabang ilmu kedokteran yang menjadi pegangan penting selama berabad-abad di Eropa. (2) Ibnu Sina, beliau mengarang ensiklopedia kedokteran yang berjudul Al-Qanun fi Al-Tibb yang telah diterjemahkan ke dalam bahasa Latin berpuluh kali dan dijadikan pegangan dalam ilmu kedokteran di Eropa sampai abad ke 17 Masehi. Dengan semangat jiwa Al Qur’an yang berfungsi sebagai obat mereka sukses mengembangkan ilmu kedokteran bahkan menjadi referensi para ilmuan Barat dan dikembangkan hingga saat ini.

Sebagai Petunjuk

Selain berfungsi sebagai media pengingat dan obat penyembuhan, al-Qur’an juga berfungsi sebagai petunjuk. Fungsi ketiga ini justru yang sangat penting dalam perjalanan hidup seseorang. Allah SWT menjelaskan pada ayat 185 surat al-Baqarah: Artinya : “Bulan Ramadhan, yang di dalamnya diturunkan Al Qur’an sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang hak dan yang batil)”.

Sebenarnya, petunjuk yang diberikan Allah kepada manusia ada empat. Dan Al Qur’an ini merupakan petunjuk yang keempat setelah petunjuk yang berupa instink, indera, dan akal. (1) Instink; merupakan petunjuk dasar yang diberikan secara otomatis oleh Allah kepada manusia dan makhluk lainnya termasuk hewan. Dalam petunjuk instink ini, hewan bahkan lebih unggul dari pada manusia. Contohnya, anak kambing yang bisa mencari susu induknya hanya selang beberapa saat setelah dilahirkan, sedangkan anak manusia memerlukan waktu yang lama. (2) Indera; merupakan petunjuk Allah yang juga diberikan kepada hewan. Dalam hal petunjuk melalui indera ini, ternyata manusia juga masih kalah dengan hewan. Misalnya, dalam pendengaran lebah menurut hasil penelitian orang Barat bisa mendengarkan suara sesama lebah sampai dengan jarak tiga kilometer. Dalam Penglihatan manusia juga kalah dengan kucing yang matanya bisa tembus pandang sekalipun dalam kegelapan. Dalam segi kecepatan lari manusia kalah dengan kuda. Oleh karena itu untuk menjadi makhluk yang unggul manusia diberi petunjuk yang ketiga yaitu akal. (3) Akal; merupakan petunjuk Allah yang diberikan kepada manusia secara khusus. Dengan petunjuk akal ini, manusia bisa mengungguli hewan yang mempunyai kelebihan di bidang instink dan indera. Misalnya dari pendengaran manusia unggul dibanding hewan karena dengan akalnya bisa menciptakan telepon, dari penglihatan manusia bisa menciptakan televisi, dan dari kecepatan lari manusia bisa menciptakan alat transportasi.

Namun demikian, jika manusia hanya diberi petunjuk akal nampaknya belum cukup untuk mengantarkan kehidupan ini menjadi tenteram dan damai. Bahkan yang terjadi bisa sebaliknya, dengan akalnya manusia bisa merusak tatanan kehidupan, misalnya semakin manusia pandai di bidang ekonomi dia semakin terbuka untuk melakukan korupsi, dan semakin pandai di bidang hukum dia semakin terbuka untuk melanggar hukum. Pelanggaran-pelanggaran manusia dengan modal petunjuk akal ini akan menjerumuskannya ke lembah kenistaan yang bisa menjatuhkan posisinya menjadi lebih hina dari hewan. Oleh karena itu, Allah memberikan petunjuk yang keempat yaitu Al Qur’an. (4) Al Qur’an; merupakan petunjuk yang lengkap untuk mengantarkan kehidupan manusia menjadi lebih terhormat dibanding makhuk Allah yang lain. Dengan petunjuk Al Qur’an perjalanan hidup manusia menjadi terarah, ibarat rambu lalu lintas yang memberi petunjuk arah secara detail sehingga pengguna jalan tidak tersesat. Begitulah perjalanan hidup ini jika didasarkan pada rambu-rambu Al Qur’an maka manusia tidak akan mengalami kesesatan, dan dijamin sampai pada tujuan, yaitu surga yang dijanjikan oleh Allah SWT.

Demikianlah multifungsi Al Qur’an dalam kehidupan manusia. Kini dikembalikan kepada diri kita masing-masing, sejauh mana kita sudah mengfungsikan Al Qur’an dalam kehidupan ini. Semakin banyak kita fungsikan Al Qur’an tentu semakin terjamin kehidupan ini menuju ridho Allah. Akhirnya semoga Allah senantiasa memberikan kekuatan kepada kita sehingga mampu mengfungsikan Al Qur’an secara optimal dalam semua lini kehidupan kita. Amiiin

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: