Pengajian Ulama

 Gus Ja’far

PP. Al-Fattah, Singosari

Merenungi Peristiwa Isro’ Dan Mi’roj

Isra’ dan Mi’raj merupakan suatu peristiwa besar. Dalam peristiwa penuh hikmah ini paling tidak ada tiga nabi dan rasul-Nya sebagai tanda bukti tentang kenabian dan kerasulannya. Kedua, unsur sejarah. Dengan demikian berarti, kita dituntut untuk selalu menelusuri, menapaktilasi sejarah kehidupan para nabi dan rasul (QS. Hud 120). Ketiga, unsur pendidikan dan pengajaran. Artinya, setiap mukmin dalam melewati jalan raya hidup dan kehidupan ini pasti dihadapkan pada berbagai macam persoalan hidup, tantangan-tantangan hidup, problematika kehidupan, baik yangmenyangkut problematika spiritual, problematika sosial kemasyarakatan, problematika pemikiran maupun problematika kebangsaan dan kenegaraan.

Itulah sebabnya, hasil maksimal dari pelajaran Isra’ dan Mi’raj adalah ditetapkannya shalat lima waktu sebagai kewajiban asasi dan pribadi bagi setiap muslim.

Seruan melaksanakan sholat itu dilakukan melalui adzan. Nah, kalau kita cermati kalimah-kalimah adzan, kita memperoleh suatu kejelasan bahwa shalat adalah sebuah jalan yang akan menghantarkan kita menggapai kemenangan dunia dan akhirat (hayya ‘alash sholaah dan hayya ‘alal falaah).

Mengapa demikian? Karena kandungan shalat itu sendiri ada delapan macam. Sebagaimana do’a yang kita baca saat kita duduk di antara dua sujud, yaitu: Rabbighfirlii, warhamnii, wajburnii, warfa’nii, warzuqnii, wahdinii, wa’aafinii, wa’fu’annii. Artinya dalam pelaksanaan shalat lima kali dalam sehari semalam, mudah-mudahan kita berhak memperoleh: 1.Ampunan dari Allah. 2. Kasih sayang dari Allah. 3. Kesempurnaan dari Allah. 4. Derajat kemulyaan dari Allah. 5. Rizqi dari Allah. 6. Petunjuk dari Allah. 7. Kebugaran dan 8. Ampunan Allah. Itulah arti dan makna do’a yang diajarkan nabi SAW kepada salah seorang sahabat yang paling dekat dengan nabi, yaitu Abu Dzar al-Ghiffari.

Salah satu upaya untuk memahami makna dan rahasia peristiwa Isro’ dan Mi’roj yang lain kita perlu merujuk sabda Nabi SAW: “Laa tusyaddur rihaalu illaa ilaa fii tsalaatsati masajida, masjidil haroom wa masjidiy haadzaa masjidil aqshoo” Artinya: Tidak perlu diupayakan secara maksimal suatu perjalanan kecuali menuju salah satu dari 3 masjid ini; masjdil Aqsho Palestina, masjid Nabawi di Madinah dan masjidil Haram di Makah.

Mengapa? Sebab ditinjau dari segi pahala, sholat di Masjidil Haram, Makkah sama dengan 100 ribu kali sholat di Masjid Istiqlal, Jakarta. Sholat di Masjid Nabawi, Madinah sama dengan 10 ribu kali sholat di masjid-masjid pada umumnya dan sholat di Masjidil Aqsho, Palestina sama dengan seribu roka’at di masjid-masjid yang lain.

Jadi untuk memahami makna dan rahasia peristiwa besar Isra’ dan Mi’raj yang digunakan adalah pendekatan Imani. Karena, sebagaimana kita maklumi bersama, sumber dasar ilmu pengetahuan adalah Trial and Error (uji coba dan kesalahan) yang dapat digunakan untuk eksperimen, observasi dan lain sebagainya. Akan tetapi terhadap peristiwa ini tidak bisa kita samakan dengan hal itu karena kejadiannya hanya terjadi sekali.

Secara filosofis, makna sholat ada tiga. Yaitu Tahiyyat (ucapan-ucapan, tanggapan dan pembicaraan yang sopan dan bagus), Sholawat (tindakan-tindakan yang mencerminkan akhlaqul karimah) dan Thoyyibaat (makanan-makanan yang halal dan sehat) dan Jika ketiga hal di atas dapat kita penuhi maka kita berhak mendapatkan as-Salaam, ar-Rohmah dan al-Barokah.

Semoga penyelenggaraan peringatan Isro’ dan Mi’roj dengan segala macam visi dan misinya membawa perubahan secara mendasar bagi upaya peningkatan kualitas muslim Indonesia khususnya dan muslim seluruh dunia pada umumnya. Amin Yarobbal’Alamin

 

Pengajian Gus Suyuthi Dahlan

Pengasuh PP. Nurul Ulum.

Masuk Golongan Orang yang Bahagia

Secara umum manusia sejagat raya ini terbagi dalam dua golongan. Golongan orang-orang yang bahagai (sa’iidun) dan orang-orang yang celaka (syaqiyyun). Demikian juga nanti di akhirat, pada akhirnya manusia juga akan terbagi dua golongan ini. Allah SWT berfirman: Di kala datang hari itu, tidak ada seorangpun yang berbicara, melainkan dengan dengan izin-Nya. Maka di antara mereka ada yang celaka dan ada yang bahagia. (QS. Huud:105).

Di dalam kitab hadits Al-Arba’in an-Nawawiyah pada hadits ke empat riwayat Bukhari Muslim diterangkan bahwa pada saat manusia berusia (empat bulan) atau 120 hari dalam rahim ditiupkanlah ruhnya kemudian Allah memerintahkan malaikat untuk mencatat berapa umurnya (ajalnya), berapa rezekinya dan dicatat apakah termasuk orang yang bahagia atau celaka.

Nah, karena kita tidak tahu apakah kita termasuk orang yang ditetapkan bahagia atau celaka maka kita harus terus berdo’a agar dijadikan orang yang bahagia. Para ulama memberikan tuntunan pada setiap malam Nisfu Sya’ban kita dianjurkan membaca do’a : Allaahumma in kunta katabta ismii syaqiyyan fii diwaanil asyqiyaa-I famhuhu waktubnii fii diwaanis su’adaa-i. Wa in kunta katabta ismii sa’iidan fi diwaanis su’adaa-I fa atsbithu fainnaka qulta fikitabikal karim, “Yamhullaahu maa yasyaa-u wa yutsbitu, wa indahuu ‘ilmul kitaabi”.

Artinya: Ya Allah, apabila Engkau telah menetapkan namaku sebagai orang yang celaka di golongan orang-orang yang celaka, maka hapuslah dan tetapkanlah aku dari golongan orang-orang yang bahagia. Dan apabila Engkau telah menetapkan namaku sebagai orang yang bahagia pada golongan orang-orang yang bahagia, maka tetapkanlah. Karena sesungguhnya Engkau telah mengatakan dalam kitab suci-Mu: “Allah menghapus apa yang Dia kehendaki dan menetapkan (apa yang Dia kehendaki). Dan di sisi Allah ilmu kitab”.

Dengan mengumandangkan do’a terutama pada malam nisfu Sya’ban ini, kita memohon kalau dahulu ketika di alam arwah kita ditulis pada golongan orang yang celaka agar dibusek (dihapus) dan diganti catatannya sebagai orang yang bahagia. Sebaliknya kita juga memohon kalau kita sudah dicatat pada golongan orang yang bahagia, kita mohon agar ditetapkan bahagia sampai di akhirat nanti.

Kenapa kita berdo’a. Menurut Syekh Afif Abdul Fattah, seorang ulama Mesir berdo’a itu merupakan naluri dasar manusia. Setiap manusia akan membutuhkan pertolongan. Coba saja kalau kita sedang kesulitan, kita akan teriak-teriak minta tolong. Hanya saja dalam minta tolong ini, manusia berbeda-beda. Ada yang minta tolong ke dukun dan sejenisnya, ada yang minta tolong kepada Allah. Bagi orang-orang yang beriman tentu saja harapan dan permohonan pertolongan itu hanya ditujukan kepada Allah. Allah SWT sudah menegaskan dalam al-Qur’an bahwa manusia memang makhluk faqir yang membutuhkan Allah. Allah SWT berfirman:

Hai manusia, kamulah yang berkehendak (butuh) kepada Allah; dan Allah Dia-lah Yang Maha Kaya (tidak memerlukan sesuatu) lagi Maha Terpuji. Jika Dia menghendaki, niscaya Dia memusnahkan kamu dan mendatangkan makhluk yang baru (untuk menggantikan kamu) (QS. Fathir: 15-16).

Karena kita makhluk lemah yang membutuhkan pertolongan Allah, maka kita perlu memperbanyak do’a, memperbanyak memohon kepada-Nya. Orang yang tidak mau berdo’a atau mohon pertolongan kepada Allah termasuk orang yang sombong. Orang yang sombong sangat dibenci Allah SWT.

 

KH. Musthofa

Anggota Komisi Fatwa MUI Kabupaten Malang

 

Alhamdulillahiladzia an’ama alaiana wa hadaana alaa diinil islam. Maksud doa ini kita dijadikan umat islam ini adalah nikmat yang amat besar. Sebab kalau sudah mau islam akan mau menjalankan syariat. Kalau sudah menjalankan syariat maka akan mau menjalankan thorikoh. Kalau sudah menjalankan thorikoh maka akan mauk pada hakikat. Klau sudah menjalankan hakikat akan njegur (masuk ) kedalam samudera kemakrifatan

Syariat kita itu mengerem jangan samapi kita mau melakukan maksiat. Syariat kita akan sempurna bila didukung dengan tiga perkara. Thorikoh yang dimaksudkan thorikoh disisni bukan organiisasi thorikohnya namun Tingkah laku dan amliyahnya. Thororikoh itu adalah jalan yang ditempuh oleh kita untuk mendapatkan barang yang mahal harganya . Apakah barang yang mahal harganya itu? Yaitu hakikat dan makrikat.

Kesempurnaan dari syariat, thorikoh , hakikatdan makrifat itu adalah amaliyah para ulamaillah, auiliyaaillah, anbiyaailllah. Nah ita selaku ummatnya para nabi khusussipun nabiyyuna Muhammad saw bila ingin sempurna harus mau diajak berdzikir. Masuklah thorikoh.

Kalau ditanya thorikoh apa yang bisa saya masuki. Terserah sampeyan. Apakah itu thorikoh Qodariyyah, Naqsyabandiyyah, Burhaniiyyah, Syadzaliyah, Umariyyah, Syatoriyyah. Semua itu sama baiknya. Tapi thorikoh yang paling gampang lan hebat sebagaimana yang disampaikan oleh Rasulullah saw Afdholut Thuruq Illah Thoriqotut Ta’lim Wa Ta’alum . Artinya: Thorikoh yang paling hebat tur gampang hubungannya antara guru dan murid yaitu Thorikoh Taklim (mengajar) dan Ta’alum (Mengaji).

Thorikoh mengajar itu bagi orang yang bisa dan mempunyai ilmu untuk disampaikan kepada ummat. Nah bagi yang tidak punya ilmu dan belum bisa mengajar tempuhlah thorikotut ta’alum (mengaji). Mengaji itu , masya Allah pahalanya. Bila diberikan sekarang, kita tidak kuat mikulnya. Namun kenapa kita ini kalau diajak mengaji kok abot (terasa berat). Orang yang mau mengaji itu menguntungkan dirinya baik di dunia, lebih-lebih besok di hadapan Allah SWT

Setiap diri kita harus mempunyia tanggung jawab menyempurnakan syariat. Kalau syariatnya berjalan disambung dengan thorikoh.Torikohnya berjalan disambung dengan hakikat , yen thorikohnya berjalan terus disambung dengan makrifat. Dengan begitu hati kita akan menjadi bening dan mempunyai Nur (bercahaya). Kalau hati kita sudah bercahaya maka akan bisa mengerem bila nafsu ingin berbuat maksiat.

Zaman sekarang ini bagaimana caranya bisa menyalamatkan diri, amaliyah serta ibadah kita agar tidak rusak. perbanyaklah membaca sholawat kepada Nabi Muhammad saw. Sebab setiap sholowat itu pasti diterima oleh Allah SWT dan tersampaikan kepada Rasulullah.

Sayyid Abdurrahman bin Musthofa al aydrus mengatakan bahwa Nur Muhammad itu sudah jauh dari kita. Sudah 1429 tahun yang lalu. Jadi kalau di lihat Nur Muhammad Itu sinarnya terlihat sudah redup, tidak seterang saat nabi Muhammad masih hidup. Bisa dikatakan semakain lama dunianya semakin peteng dedet (gelap). Buktinya apa ? ya kita lihat saja tingkah laku manusia yang semakin rusak. Nah kita harus memohon kepada Allah mudah-mudahan kita yang hidup di akhir zaman ini tetap mendapatkan pancaran nur Muhammad yang sudah mulai redup itu agar kita selamat. Caranya mengajilah dan perbanyaklah membaca sholawat.

 

 

KH. Musthofa

Anggota Komisi Fatwa MUI Kabupaten Malang

Mengajipun Termasuk Thariqoh

Alhamdulillahil ladzia an’ama alaiana wa hadaana alaa diinil islam. Maksud dari doa ini adalah pengakuan bahwa kita dijadikan sebagai umat Islam itu merupakan nikmat yang amat besar. Sebab kalau sudah mau Islam, maka akan mau menjalankan syariat. Kalau sudah menjalankan syariat maka akan mau menjalankan thoriqoh. Kalau sudah menjalankan thorikoh maka akan masuk pada hakikat. Kalau sudah menjalankan hakikat akan njegur (masuk) ke dalam samudera kemakrifatan

Syari’at kita itu mengerem kita jangan sampai kita melakukan maksiat. Syari’at kita akan sempurna bila didukung dengan tiga perkara. Pertama, thoriqoh. Yang dimaksudkan thoriqoh disisni bukan organiisasi thorikohnya namun tingkah laku dan amaliyahnya. Thoriqoh itu adalah jalan yang ditempuh oleh kita untuk mendapatkan barang yang mahal harganya. Apakah barang yang mahal harganya itu?, yaitu hakikat dan makrikat.

Kesempurnaan dari syariat, thoriqoh , hakikat dan makrifat itu adalah amaliyah para nabi, para wali dan para ulama. Nah, kita selaku ummatnya para nabi khususnya Nabi Muhammad SAW bila ingin sempurna maka harus mau diajak berdzikir, masuklah thoriqoh.

Kalau ditanya thoriqoh apa yang bisa saya masuki. Terserah sampeyan. Apakah itu thoriqoh Qodariyyah, Naqsyabandiyyah, Burhaniiyyah, Syadzaliyah, Umariyyah, Syatoriyyah. Semua itu sama baiknya. Tapi thoriqoh yang paling gampang dan hebat adalah sebagaimana yang disampaikan oleh Rasulullah SAW: Afdholut thuruuqi Ilallah, thoriqotut ta’lim wa ta’alum. Artinya: Thorikoh yang paling hebat dan gampang hubungannya antara guru dan murid yaitu thoriqoh taklim (mengajar) dan ta’alum (mengaji).

Thoriqoh mengajar itu bisa dilakukan oleh orang yang mempunyai ilmu untuk disampaikan kepada ummat. Nah bagi yang tidak punya ilmu dan belum bisa mengajar tempuhlah thoriqotut ta’alum (mengaji). Mengaji itu, masya Allah pahalanya. Bila diberikan sekarang, kita tidak kuat mikulnya. Namun, kenapa kita ini kalau diajak mengaji kok abot (terasa berat). Orang yang mau mengaji itu menguntungkan dirinya baik di dunia, lebih-lebih besok di hadapan Allah SWT.

Setiap diri kita harus mempunyia tanggung jawab menyempurnakan syari’at. Kalau syari’atnya berjalan disambung dengan thorikoh.Torikohnya berjalan disambung dengan hakikat. Kalau thoriqohnya berjalan terus disambung dengan makrifat, maka hati kita akan menjadi bening dan mempunyai nur (bercahaya). Kalau hati kita sudah bercahaya maka akan bisa mengerem bila nafsu ingin berbuat maksiat.

Zaman sekarang ini sudah sedemikain rusak. Bagaimana caranya kita bisa menyalamatkan diri, amaliyah serta ibadah kita agar tidak rusak. perbanyaklah membaca sholawat kepada Nabi Muhammad saw. Sebab, setiap sholowat itu pasti diterima oleh Allah SWT dan tersampaikan kepada Rasulullah.

Sayyid Abdurrahman bin Musthofa al Aydrus mengatakan bahwa Nur Muhammad itu sudah jauh dari kita. Sudah 1429 tahun yang lalu. Jadi kalau dilihat Nur Muhammad itu sinarnya terlihat sudah redup, tidak seterang saat nabi Muhammad masih hidup. Bisa dikatakan semakin lama dunianya semakin gelap. Buktinya apa ? ya kita lihat saja tingkah laku manusia yang semakin rusak. Nah kita harus memohon kepada Allah mudah-mudahan kita yang hidup di akhir zaman ini tetap mendapatkan pancaran nur Muhammad yang sudah mulai redup itu agar kita selamat. Caranya mengajilah dan perbanyaklah membaca sholawat.

 

Pengajian Kyai Imran Jamil

Jombang.

Merasakan Nikmatnya Ibadah dengan Mengenal Allah

Apabila Allah Ta’ala telah membukakan pintu makrifat untuk seorang hamba, engkau tidak perlu kepada amalanmu yang memang sedikit itu. Karena Allah telah membuka makrifat untukmu itu, berarti Allah berkehendak memberi anugerah-Nya kepadamu, sedangkan amal-amal yang engkau lakukan adalah semacam pemberian ketaatan kepada-Nya. Kalau demikian, maka di manakah letaknya perbandingan antara ketaatan seorang hamba dengan anugerah yang diterima dari Allah?”

Makrifat kepada Allah adalah tujuan yang hendak dijangkau oleh seorang hamba, dan cita-cita yang diharapkan. Apabila seorang hamba menghadap Allah Ta’ala karena telah dibukakan pintu makrifat, maka ia akan mendapatkan ketenangan dalam makrifat itu, karena di dalamnya akan dijumpai kenikmatan rohani yang berlimpah-limpah. Selain itu, ia akan senantiasa berhasrat untuk memperbanyak amal ibadah, disebabkan begitu banyak keutamaan yang diberikan Allah kepadanya.

Dengan makrifat itu, seorang hamba akan semakin tebal keyakinannya dan semakin dekat kepada Allah karena ia dapat memandang Allah dengan makrifat itu. Yang dimaksud melihat di sini adalah melihatnya seorang hamba dengan mata hati sanubari (basiroh)-nya.

Hamba Allah yang dekat kepada Allah, ia akan mampu mengenal Allah dengan baik, karena makrifat menurut arti harfiyahnya sama dengan mengenal. Maksudnya, dekat dengan Allah serta mengenal akan sifat-sifat Allah serta beriman sepenuhnya dengan sifat-sifat yang mulia itu.

Dalam ibadah seorang hamba yang bermakrifat kepada Allah, berarti ia benar-benar dapat mengenal Allah. Dengan mata hatinya yang bersinar ia mendekati Allah untuk mendapatkan rahmat dan kasih sayangnya.

Makrifat bagi seorang hamba diperlukan dalam beribadah dan beramal. Sebab, dengan makrifat ia akan sampai kepada tingkatan haqqul yakin (keyakinan yang benar-benar mantap). Dalam mengenal Allah, manusia terbagi dalam tiga tingkata. Pertama mengetahui adanya Allah. Setiap orang yang beriman, wajib a mengetahui bahwa Allah Ta’ala itu ada. Dalam tahap ini ia baru berada dalam tingkatan ilmul yaqin. Kedua, ketika seorang hamba mengenal Allah dengan baik menurut ilmu Allah sendiri, maka ia telah berada pada tingkat ainul yaqin. Dan ketika pengenalannya dengan Allah menjadi bagian hidup yang tak terpisahkan dalam tingkat makrifat, maka ia telah berada dalam keadaan haqqul yaqin.

Makrifat kepada Allah dalam tiga tahap ini adalah tugas yang harus dimiliki oleh si hamba dari waktu ke waktu dalam menyempurnakan iman dan ibadahnya kepada Allah.

Kedudukan makrifat tidak boleh bertentangan dengan akidah dan syariat. Yang bersumber kepada Qur’an dan sunnah Rasulullah Saw. Hamba yang makrifat kepada Allah, tidak berarti ia mengurangi ibadah dan amalnya, justru makin tinggi maqam (derajat) seorang hamba, makin banyak pula ibadahnya dan makin sempurna amalnya. Hamba yang saleh dan sempurna kemakrifatannya, adalah orang yang kokoh imannya dan tekun ibadahnya. Sebab, antara iman dan amal saleh tidak dapat dipisahkan dalam ibadahnya. Seperti firman Allah dalam surat At Tin ayat 6, “Kecuali orang-orang yang beriman dan beramal sholeh, bagi mereka pahala yang tidak putus-putus.”

Makrifat kepada Allah (menurut akidah dan syariat) hendaklah berdasarkan iman dan amal saleh. Walaupun pahala bagi seorang hamba yang makrifat bukanlah tujuan. Sebab yang menjadi tujuan dan yang dicarinya ialah ridho Allah Ta’ala

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: