Tafsir Surat Al-Baqoroh ayat 142-144 (Ayat Perubahan Arah Kiblat)

 Mau Menarik Simpati,

Malah Dicaci Maki

Selama berada di Mekkah, Nabi Muhammad SAW dan kaum muslimin melakukan shalat dengan menghadap ke arah Ka’bah di Masjidil Haram. Namun, ketika beliau berhijrah dan tiba di Madinah beliau bersama umat Islam sholat menghadap ke Baitul Maqdis di Palestina yang juga merupakan arah kiblat orang-orang Yahudi. Umat Islam melaksanakan sholat dengan menghadap ke Baitul Maqdis ini selama kurang lebih enam belas bulan. Pengalihan arah kiblat tersebut untuk menarik hati orang-orang Yahudi kiranya dengan arah kiblat yang sama mereka diharapkan mau mengikuti Islam, karena kiblat merekapun mengarah ke sana. Namun, rupanya mereka bukannya mengikuti Islam malah mengejek Nabi dan umat Islam karena dianggap mengikuti kiblat mereka.

Allah SWT berfirman:

Sayaquulus sufahaa’u minnasi maa wallahum ‘an kiblatiihimullatii kaanuu ‘alaihaa. Qullillahil masyriqu wal maghribu yahdi man yasyaa’u ila syirootim mustaqiim.

Artinya: (As-syufaha’ (orang-orang yang lemah akalnya) di antara manusia akan berkata: “Apa yang memalingkan mereka dari arah kiblat mereka (Bait –al maqdis) yang dahulu mereka telah berkiblat kepadanya?. Jawablah : “Milik Allah timur dan barat. Dia memberi petunjuk kepada siapa yang dikehendakiNya kejalan yang lurus.)

As-syufaha’ adalah orang-orang yang lemah akalnya, atau yang melakukan aktifitas tanpa dasar, baik karena tidak tahu, atau enggan tahu, atau tahu tapi melakukan yang sebaliknya. Ayat ini berkaitan dengan sikap orang-orang Yahudi dan kaum muyrikin yang mencemooh umat Islam. Mereka mempertanyakan, “Apa yang membuat mereka (umat Islam) berpaling atau pindah dari kiblat mereka yang dahulu?. Kenapa tadinya mereka mengarah ke Mekkah kemudian pindah ke Baitul Maqdis, atau tadinya ke Baitul Maqdis sekarang ke Ka’bah lagi. Kalau mengarah ke Baitul Maqdis atas perintah Allah, mengapa mereka mengarah ke Ka’bah, tentu ada kekeliruan Nabi Muhammad SAW dan kaum Muslimin.

Allah tidak menjelaskan mengapa Dia mengalihkan arah kiblat yang akhirnya mengarah ke Ka’bah. Ketika Nabi hijrah, Ka’bah masih dipenuhi berhala, dan kaum musyrikin Arab mengagungkan Ka’bah bersama-sama berhala yang mereka tempatkan di sana. Namun, tidak disebutkannya sebab pengalihan itu memberi isyarat, bahwa perintah Allah, khususnya yang berkaitan dengan ibadah mahdloh (murni) tidak harus dikaitkan dengan pengetahuan manusia tentang sebab musababnya. Ia harus diamalkan, walaupun memang pasti ada sebab atau hikmah di balik itu. Setiap muslim diperintahkan untuk melaksanakannya, namun tidak dilarang untuk bertanya atau berpikir guna menemui jawabannya.

Allah SWT mengajarkan kepada Nabi Muhammad SAW dan kaum Muslimin jika nanti ada omongan atau pertanyaan orang-orang Yahudi tentang kenapa umat Islam mengalihkan kiblat. Allah memerintahkan agar Nabi mengatakan bahwa milik Allah arah barat dan timur, jadi kemanapun arah kiblat ya terserah Allah. Jawaban ini sekaligus menyiapkan mental kaum muslimin ketika menghadapi aneka ragam gangguan serta gejolak pikiran menyangkut peralihan kiblat. Dengan demikian, diharapkan jiwa mereka lebih tenang menghadapi hal-hal tersebut.

 

 

Wakadzaalika ja’alnaakum ummatan wasathon litakuunuu syuhadaa’a ‘alan-naasi wayakuunar rosuulu ‘alaikum syahiidan. Wamaa ja’alnal qiblatallatii kunta ‘alaihaa illaa lina’lama man yattabi’ur rosuula minman yanqolibu ‘alaa ‘aqibaihi. Wa inkaanat lakabiirotan illaa ‘alalladziina hadallaahu. Wamaa kaanallahu liyudlii’a iimaanakum. Innallaaha bin-naasi laro-uufuur rohiim.

(Dan demikian Kami telah menjadikan kamu ummatan wasathon agar kamu menjadi saksi atas perbuatan manusia dan agar rosul (Muhammad SAW) manjadi saksi atas perbuatan kamu. Dan Kami tidak menetapkan kiblat yang menjadi kiblat kamu (sekarang) melainkan agar Kami mengetahui (dalam dunia yang nyata) siapa yang mengikuti Rosul dan siap yang membelot. Dan sungguh perpindahan kiblat itu terasa amat berat, kecuali kepada orang-orang yang diberi petunjuk oleh Allah dan Allah tidak akan menyia-nyikan iman kamu. Sesungguhnya Allah Maha Pengasih dan Penyayang.)

Ketika manusia dalam posisi di tengah dalam arti tidak memihak ke kanan dan ke kiri maka ia akan dituntut bersikap adil. Posisi di tengah menjadikan seseorang dapat dilihat oleh siapapun dari berbagai penjuru. Allah menjadikan umat Islam pada posisi pertengahan agar dapat menjadi saksi atas perbuatan manusia yakni umat yang lain. Tetapi, ini tidak dilakukan kecuali jika mereka menjadikan Rosul SAW sebagai saksi yang menyaksikan kebenaran sikap dan perbuatan mereka.

Pergantian arah kiblat, boleh jadi membingungkan sebagian umat Islam dan menimbulkan aneka pertanyaan dari Yahudi atau kaum muysrikin Mekkah dalam menggelincirkan mereka. Karena itu, disebutkan dalam ayat tersebut, “..dan Kami tidak menetapkan kiblat yang menjadi kiblat kamu sekarang melainkan agar Kami mengetahui siapa yang mengikuti Rosul dan siapa yang membelot. Allah sebenarnya telah mengetahui siapa yang akan terus mengikuti Rosul dan siapa yang membelot. Tetapi Dia ingin menguji manusia sehingga pengetahuan-Nya terbukti dan nyata. Di samping itu, bukan hanya Dia yang mengetahui siapa yang tetap beriman, tetapi orang yang diuji dan orang lainpun juga mengetahui.

 

Qod naroo taqolluba wajhika fis samaa’i falaa nuwaliyannaka qiblatan tardhoohaa, fawalli wajhaka syathrol masjidil haraami wa haitsu maa kuntum fawalluu wujuuhakum syatrohu. Wa innalladziina uutul kitaaba laya’lamuuna annahul haqqu min robbihim. wamallahu bi ghofolin ‘amma ta’maluuna.

(Sungguh kami sering melihat wajahmu menengadah ke langit, maka sesungguhnya Kami akan memalingkan kamu ke kiblat yang kamu sukai. Palingkanlah wajahmu ke arah Masjidil Haram. Dan di mana saja kamu berada, palingkanlah wajahmu ke arahnya. Dan sesungguhnya orang-orang (Yahudi dan Nasrani) yang diberi al-Kitab (Taurat dan Injil) mengetahui, bahwa berpaling ke Masjidil Haram adalah benar dari Tuhannya. Dan Allah sekali-kali tidak lengah dari apa yang mereka kerjakan.

Kata Qod dalam ayat ini diterjemahkan ”sungguh”. Ada juga yang memahaminya dalam arti sedikit, sehingga ayat di atas diartikan “Kami sekali melihat wajahmu dst”. Betapapun artinya, yang jelas melalui ayat ini Allah menyampaikan kepada Nabi Muhammad SAW bahwa Dia mengetahui keinginan isi hati atau do’a. Ayat di atas kemudian menambahkan uraianya dengan menyatakan “ maka guna memenuhi keinginanmu serta mengabulkan doamu “Sungguh Kami akan memalingkan mu ke kiblat yang engkau sukai, maka kini palingkanlah wajahmu ke arah Masjidil Haram.

Sementara ulama sufi menggaris bawahi bahwa ayat ini memerintahkan mengalihkan wajah, bukan hati dan fikiran. Karena hati dan pikiran hendaklah selalu mengarah kepada Allah SWT. Hati dan isinya adalah suatu yang ghaib, maka sesuai dengan sifatnya ia harus mengarah pada yang Maha Ghaib. Sedangkan wajah adalah sesuatu yang nyata, maka iapun harus diarahkan pada sesuatu yang nyata, yaitu bangunan bentuk kubus yang berada di Masjidil Haram.

Setelah jelas bahwa keinginan Nabi Muhammad SAW telah dikabulkan, maka perintah kali ini tidak hanya ditujukan pada beliau sendiri tetapi juga ditujukan kepada semua manusia tanpa terkecuali.

Ayat ini diturunkan ketika Nabi Muhammad SAW sedang sholat Dhuhur bersama para sahabat di suatu rumah di Madinah yang dikenal dengan masjid Bani Salamah. Pada saat itu Nabi masih sholat menghadap Baitul Maqdis maka beliaupun mengarahkan kiblatnya ke Ka’bah. Oleh karena itu, selanjutnya masjid tempat wahyu ini turun disebut masjid Dzul Qiblatain (Yang memiliki dua kiblat)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: